BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Ilmu akuntansi memiliki beberapa
pandangan yang digunakan oleh para peneliti. Peneliti kualitatif maupun
kuantitatif akan menggunakan hal tersebut sebagai panduan dalam menapaki subjek
penelitian. Beberapa hal mungkin merupakan pengabungan antara rasionalisme dan
empirisme karena akuntansi merupakan ilmu yang menggunakan pemikiran untuk
menganalisis data transaksi akuntansi dalam membuatan laporan keuangan dimana
data transaksi akuntansi merupakan hal yang kongkrit dapat di respon oleh panca
indera manusia.
Pertemuan sebelumnya membahas ilmu
akuntansi yang digunakan sesuai dengan keperluan dalam suatu profesi tertentu
sebagai aspek dalam axiologi atau bagaimana ilmu akuntansi tersebut digunakan.
Dalam aspek epistemologi ilmu akuntansi menjabarkan bagaimana langkah langkah
atau proses dalam pembuatan suatu laporan keuangan dan bagaimana suatu
transaksi saling mempengaruhi dalam suatu laporan keuangan. Dalam aspek
ontologi, ilmu akuntansi menjelaskan apa isi atau hal yang di telaah dalam ilmu
akuntansi tersebut.
Ilmu akuntansi terikat pada kaidah atau
kode etik ilmu tersebut. Ilmu akuntansi membahas tentang kuantifikasi dan
frekuensi yang merupakan data transaksi laporan keuangan. Oleh karena itu,
pembahasan panjang terkait perspektif-perspektif akuntansi.
B. Rumusan
Masalah
Rumusan masalah yang dapat diambil
sebagai berikut bagaimana memahami perspektif-perspektif dalam penelitian
akuntansi.
C.
Maksud
Dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan dari rumusan masalah di atas adalah agar mampu memahami perspektif-perspektif dalam penelitian
akuntansi?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Paradigma Antropologis/Induktif
Contoh dalam paradigma
antropologis/Induktif, Ijiri memiliki pendapat bahwa perhatian utama dari
akuntansi adalah berfungsinya hubungan-hubungan akuntabilitas di antara
pihak-pihak yang berkepentingan. Pengukuran objektifnya adalah kinerja ekonomi
dari perusahaan. Berdasarkan atas diskusi yang berkaitan dengan metodologi
penelitian dan peranan logika dalam penyusunan teori dan formulasi kebijakan
akuntansi, Ijiri menyajikan akuntabilitas sebagai suatu teori deskriptif
akuntansi.
Sebagai
pembelaan dari paradigmanya dan menyanggah kritik-kritik dari para penganjur
biaya saat ini, Ijiri juga menyajikan suatu model aksiomatik dan praktik
akuntansi yang sedang berjalan yang mengevaluasi seberapa pentingnya biaya
historis jika dilihat dari segi akuntabilitas dan pengambilan keputusan. Littleton
mengambil prinsip akuntansinya dari pengamatan praktik akuntansi yang
mengevaluasi signifikansi biaya historis dalam akuntabilitas dan pengambilan
keputusan.
Para
pengajar pembukuan, akuntansi, dan audit menemukan bahwa perlu ditambahkan
penjelasan dan justifikasi pada aturan-aturan dan uraian prosedur yang telah
terakumulasi. Hal ini dilakukan agar studi yang dilakukan hendaknya lebih
daripada sekedar penghapalan aturan-aturan. Karenanya, tepat jika dikatakan
bahwa baik metode praktik maupun penjelasan dari teori secara induktif
diperoleh dari pengalaman.
Teori
yang baik diciptakan melalui praktik dan selain itu, dipersiapkan pula oleh
praktik. Akhirnya, di mana ditemukan adanya bukti integrasi ide-ide akuntansi,
maka ia akan memperkuat keyakinan bahwa akuntansi memiliki kemungkinan untuk
dibangun di dalam sebuah sistem yang terdiri atas penjelasan dan justifikasi
yang terkoordinasi mengenai apakah arti dari akuntansi dan ia dapat menjadi apa
nantinya.
Gambaran
Subjek Permasalahan
Bagi mereka yang
menrapkan paradigma antropologis/induktif, subjek permasalahan yang mendasar
adalah:
1.
Praktik-praktik
akuntansi yang sudah ada
2.
Sikap
manajemen terhadap praktik-praktik tersebut.
Para pendukung dari pandangan ini menyatakan
secara umum bahwa teknik-tekniknya dapat diperoleh dan dijustifikasi
berdasarkan atas penggunaan mereka telah teruji atau bahwa manajemen memainkan
suatu peranan utama dalam menentukan teknik-teknik yang akan diimplementasikan.
Konsekuensinya, tujuan penelitian akuntansi yang dikaitkan dengan paradigma
antropologis/induktif adalah untuk memahami, menjelaskan, dan meramalkan
praktik-praktik akuntansi yang sudah ada.
Teori
Empat teori dapat
dipertimbangkan sebagai bagian dari paradigma antropologis/induktif, yaitu:
1.
Ekonomi
informasi, memberikan kerangka untuk menentukan nilai suatu perubahan informasi
dilihat dari sudut pandang individu pengambilan keputusan. Perbedaan yang
terdapat pada ekspektasi dua alternatif.
2.
Model
analitis/keagenan, adanya kontrak secara sukarela antara manajer sebagai agen
dan pemilik modal sebagai prinsipal karena adanya perbedaan kepentingan.
3.
Perataan
laba/hipotesis manajemen penghasilan, perataan laba dilakukan oleh manajemen,
karena pasar lebih tertarik dengan perusahaan yang memiliki laba yang cenderung
rata, dibandingkan yang tidak rata.
4.
Teori
positif dari akuntansi, tujuannya untuk meramalkan dan menjelaskan
pilihanstandar manajemen melalui analisis biaya-manfaat dari pengungkapan
keuangan tertentu dalam hubungannya dengan berbagai individu dan alokasi sumber
daya ekonomi. Orang dalam perusahaan akan bertindak secara rasional dan
berusaha memaksimalkan kegunaan mereka yang berhubungan dengan kompensasi dan
kesejahteraan.
Metode
Mereka yang menerapkan
paradigma antropologis/induktif cenderung akan menerapkan salah satu dari tiga
teknik berikut:
1.
Metode
perataan laba, mengamati perilaku variabel yang tidak termasuk dalam biaya
penjualan, biaya biasa, dan beban biasa ditambah biaya operasi, perilaku dua
objek perataan operasi pendapatan dan pendapatan biasa.
2.
Manajemen
penhasilan, berfokus pada penggunaan manajerial akrual diskresioner.
3.
Teori
positif, menggambarkan paradigma agensi positif dalam mengembangkan teori
akuntansi keuangan yang positif, kelangsungan hidup, dalam prinsip akuntansi
yang bertahan akan efisien; efektivitas pasar modal; dan biaya non-zero agency, di mana anggota
akuntaansi dapat memengaruhi arus kas.
B. Paradigma Laba Sebenarnya/Deduktif
Studi-studi yang memenuhi
persyaratan sebagai contoh dari paradigma laba sebenarnya/deduktif adalah hasil
karya dari Alexander, Canning, Monitz, Paton, Sprouse dan Moonitz, dan Sweeney.
Para penulis tersebut berbagi suatu perhatian pada pendekatan normatif-deduktif
terhadap penyusunan suatu teori akuntansi dan dengan pengecualian bagi
Alexander, suatu keyakinan bahwa idealnya, laba diukur dengan menggunakan dasar
penelitian tunggal akan mampu memenuhi kebutuhan dari semua pengguna.
Para
peneliti ini juga sepenuhnya menyetujui pendapat bahwa informasi harga saat ini
adalah lebih berguna daripada informasi biaya historis yang konvesnsional bagi
para pengguna dalam membuat pengambilan keputusan ekonomi. Paten, misalnya
menolak pandangan dari teori kepemilikan atas akun-akun dengan menyatakan ulang
teori akuntansi dengan suatu cara konsisten terhadap kondisi dan kebutuhan dari
perusahaan bisnis sebagai suatu entitas atau kepribadian yang berbeda. Menurut
Paton, akuntansi memainkan ssebuah peranan yang signifikan dan relevan dalam
perusahan dan dalam masyarakat.
Gambaran
Subjek Permasalahan
Bagi mereka yang
menerapkan paradigma laba sebenarnya/deduktif, subjek permasalah yang mendasar
adalah:
1.
Penyusunan
suatu teori akuntansi berdaasarkan pada pemikiran yang logis dan normatif dan
ketegasan konseptual, dan
2.
Suatu
konsep laba yang ideal berdasarkan pada metode lain disamping metode biaya
historis
Teori
Teori-teori yang muncul
dari paradigma laba sebenarnya/deduktif menyajikan definisi dan penilaian laba
sebenarnya. Perbedaan antara teori diturunkan dari perbedaan interpretasi
konsep laba
Konsep
Laba
Konsep laba pertama
diperiksa oleh para ekonom, yaitu:
a.
Adam
Smith, pendapatan sebagai peningkatan kekayaan. Oleh karena itu, pengukuran
kekayaan mendahului pengukuran pengukuran manajemen.
b.
Irving
Fisher, pendapatan sebagai rangkaian kejadian yang sesuai dengan keadaan yang
berbeda.
Konsep
Pemeliharaan Modal
Pemeliharaan modal adalah
pengembalian modal atau pemulihan biaya dari pengembalian modal atau
pendapatan. Modal dapat dinilai dari segi nilai uang atau daya beli. Konsep
pemeliharaan modal sebagai berikut:
a.
Pemeliharaan
modal finansial, diukur dari segi uang dan dikenal sebagai money amintenance diukur dalam satuan daya beli yang sama.
b.
Pemeliharaan
modal fisik diukur dari segi perawatan produktif.
Metode
1.
Model Penentuan Laba
Perbedaan antara
penentuan laba alternatif berasal dari atribut berbeda yang diukur dan unit
pengukuran yang digunakan. Pilihan atribut dan unit pengukuran membawa kita
pada model penentuan laba berikut ini:
a.
Akuntansi
biaya historis mengukur biaya historis dalam satuan uang.
b.
Akuntansi
nilai penggantian, mengukur biaya penggantian dalam satuan uang.
c.
Akuntansi
nilai realisasi bersih mengukur nilai realisasi bersih dalm satuan uang.
d.
Akuntansi
nilai saat ini, mengukur nilai saat ini dalam satuan uang.
e.
Harga
umum mengukur biaya historis dalam satuan daya beli.
f.
Tingkat
harga umum nilai penggantian mengukur nilai penggantian dalam satuan daya beli.
g.
Tingkat
harga umum nilai realisasi bersih mengukur nilai realisasi bersih dalam satuan
daya beli.
h.
Tingkat
harga umum nilai saat ini, mengukur nilai saat ini dalam satuan daya beli.
2.
Evaluasi Kriteria
Model penentuan
pendapatan yang disajikan didasarkan pada penhindaran kesalahan waktu dan mengukur
kesalahan unit dan dievaluasi dalam hal interpretasi dan relevansi.
a.
Kesalahan
waktu, terjadi ketka perubahan nilai terjadi pada periode tertentu namun
dicatat dan dilaporkan pada periode lain.
b.
Mengukur
unit kesalahan terjadi ketika laporan keuangan tidak mengalami pada daya beli
umum.
3.
Akuntansi Biaya Historis
Akuntansi biaya historis
dan akuntansi konvensional, didasarkan pada penerapan prinsip-prinsip yang
ketat untuk penilaian aset dan penentuan pendapatan. Prinsip ini mencakup
penggunaan biaya historis sebagai unsur dari laporan keuangan dengan asumsi
unit moneter stabil.
4.
Akuntansi Biaya Pengganti
Akuntansi biaya
pengganti, ditandai dengan penggunaan biaya pengganti sebagai atribut dari
laporan keuangan, dikotomisasi keuntungan memegang yang direalisasikan dan yang
belumdirealisasi serta kehilangan.
5.
Nilai realisasi Akuntansi
Perhitungan nilai
realisasi bersih, dicirikan terutama dengan pengabaian prinsip realisasi,
dikotomisasi pendapatan operasional, dan keuntungan/kerugian yang diraih.
6.
Tingkat Harga disesuaikan, Akuntansi Biaya Historis
Akuntansi biaya historis
yang disesuaikan dengan tingkat harga ditentukan oleh penggunaan biaya historis
sebagai atribut elemen laporan keuangan, engunaan daya beli umum sebagai unit
pengukuran, prinsip pencocokan, dan prinsip realisasi.
7.
Tingkat Harga Disesuaikan, Biaya Penggantian
Akuntansi biaya
penggantian, tingkat harga disesuaikan dengan penggunaan biaya penggantian
sebagai atribut elemen laporan keuangan, prinsip realisasi, dikotomisasi
pendapatan operasional dan realisasi keuntungan dan kerugian yang
direalisasikan, dan dikotomisasai keuntungan dan kerugian yang direalisasi riil
yang belum direalisasikan.
8.
Tingkat Harga Disesuaikan, Nilai Realisasi Bersih Akuntansi
Perhitungan nilai
realisasi bersih yang disesuaikan dengan tingkat harga umum dicirikan dengan
penggunaan daya beli umum sebagai unit pengukuran, pengabaian prinsip
realisasi, dikotomisasi pendapatan operasional dan keuntungan dan kerugian
pemegang saham riil, dan dikotomisasi keuntungan dan kerugian riil yang belum
terealisasi.
9.
Kritik terhadap Paradigma Laba Sebenarnya/Deduktif
Paradigma deduktif dalam
akuntansi berusaha memberikan teori normatif penentuan pendapatan dan penilaian
aset melalui penalaran deduktif dan bukan analisis empirik dan evolusioner.
Pencarian itu akan mencari apa yang seharusnya dilakukan daripada apa adanya
dalam pendekatan normatif tidak dilanjutkan tanpa dikritisi. Upaya membuat
ketidakpastian relevan dengan dua jala, yaitu kepalsuan keinginan dan alasan
pasar.
C. Paradigma Kegunaan Keputusan/Model Keputusan
Chambers adalah salah
seorang yang pertama kali mengemukakan mengenai paradigma kegunaan keputusan/model keputusan ini: Oleh
sebab itu, merupakan suatu akibat yang wajar dari asumsi adanya manajemen yang
rasional bahwa akan terdapat suatu sistem yang memberikan informasi, di mana
sistem semcam itu diminta baik sebagai dasar untuk meninjau
konsekuensi-konsekuensi dari keputusan. Sebuah sistem yang memberikan informasi
secara formal akan memenuhi kedua dalil di atas.
Hal
yang pertama merupakan suatu persyaratan dari sebuah wacana logis. Sistem
secara logika hendaknya konsisten; tidak diperbolehkan adanya aturan atau
proses yang bertentangan dengan aturan atau proses manapun juga. Dalil yang
kedua muncul dari penggunaan laporan akuntansi sebagai suatu dasar untuk
pengambilan keputusan dengan konsekuensi praktis. Informasi yang diberikan oleh
sistem semacam itu hendaknya relevan dengan jenis keputusan yang diharapkan
akan difaslitasi oleh pembuatnya.
Chambers
tidak mengejar pandangan mengenai paradigma kegunaan keputusan/model keputusan
ini. Ia lebih memilih untuk mendasarkan suatu teori akuntansi berdasarkan atas
kegunaan dari “setara kas lancar”, dari pada model-model keputusan dari
kelompok-kelompok penggunatertentu. Demikian pula, May menawarkan suatu daftar
kegunaan dari akun-akun keuangan tanpa secara eksplisit menerapkan pendekatan
model keputusan di dalam formulasi dari suatu teori akuntansi. Menurut May, aku
keuangan digunakan sebagai:
1.
Laporan
mengenai kepengurusan
2.
Suatu
basis bagi kebijakan fiskal
3.
Suatu
kriteria mengenai legaitas dari dividen
4.
Suatu
pedoman untuk menyandarkan aktivitas dividen
5.
Suatu
basis bagi pemberian kredit
6.
Informasi
bagi calon investor prospektif
7.
Suatu
pedoman mengenai nilai dari investasi yang telah dihasilkan
8.
Bantuan
bagi supervisi pemerintah
9.
Suatu
basis untuk regulasi tingkat harga
10.
Suatu
basis untuk perpajakan
Bahkan perkataan yang
dilontarkan oleh Beaver, Kennely dan Voss, Sterling dapat dianggap sebagai
contoh sejati dari paradigma kegunaan/model keputusan ini. Beaver, Kennely dan
Voss mengkaji asal dari kriteria kemampuan peramalan, hubungannya terhadap
fasilitasi dari pengambilan keputusan dan kesulitan potensial, yang dikaitkan
dengan implementasinya. Menurut kriteria kemampuan peramalan ini, metode
alternatifpengukuran akuntansi dievaluasi dengan dilihat dari segi kemampuan
yang mereka miliki untuk pengukuran akuntansi dievaluasi dengan dilihat dari
segi kemampuan yang mereka miliki untuk meramalkan peristiwa-peristiwa ekonomi.
Ukuran
yang memiliki ketentuan peramalanterbesar dalam kaitannya dengan suatu
peristiwa tertentu akan dianggap sebagai metode terbaik untuk tujuan
tersebut.Kriteria kemampuan peramalan ini disajikan sebagai suatu kriteria
tujuan, dalam arti bahwa data akuntansi seharusnya dievaluasi berdasarkan atas
tujuan atau kegunaannya yang merupakan : suatu hal yang berlaku umum di dalam
akuntansi dalam fasilitas pengambilan keputusan. Kriteria kemampuan peramalan
diasumsikan sebagai sesuatu yang relevan, bahkan ketika diterapkan bersama-sama
dengan model keputusan berspesifikasi rendah.
Karena
peramalan merupakan suatu bagian yang inheren dalam proses pengambilan
keputusan, pengetahuan mengenai kemampuan peramalan dan ukuran-ukuran
alternatif adalah suatu persyaratan untuk menggunakan kriteria pengambilan
keputusan. Dalam waktu yang bersamaan, ia memungkinkan ditariknya kesimpulan
sementara sehubungan dengan pengukuran-pengukuran alternatif, yang masih
menunggu konfirmasi lebih lanjut ketika nanti model-model pengambilan keputusan
akhirnya dapat dinyatakan. Penggunaan kemampuan permalan sebagai suatu kriteria
tujuan adalah lebih dari hanya sekedar konsistensi terhadap orientasi
pengambilan keputusan dari akuntansi. Ia dapat memberikan isi dari penelitian
yang akan membawa akuntansi lebih dekat ke arah sasarannya dalam melakukan
evaluasi dilihat dari segi orientasi pengambilan keputusan.
Sterling
mengembangkan kriteria yang akan digunakan dalam mengevaluasi beragam ukuran
kekayaan dan lab.melihat pertentangan sudut pandang yang terjadi mengenai
tujuan dari laporan-laporan akuntansi. Sterling memilih kegunaan sebagai
kriteria yang menolak metode pengukuran, dengan menekankan kepentingan yang ia
miliki di atas persyaratan-persyaratan lain seperti objektivitas dan
verifiabilitas (dapat diuji).
Gambaran
Pokok Masalah
Bagi
para pengguna paradigma kegunaan keputusan/model keputusan, pokok persoalan
daasarnya adalah manfaat informasi akuntansi dalam model keputusan. Informasi
yang relevan dengan model atau kriteria keputusan ditentukan dan diterapkan
dengan memilih alternatif akuntansi terbaik. Kemanfaatan dalam model keputusan
sama dengan model keputusan yang relevan. Sebagai contoh, Sterling menyatakan:
Apabila suatu properti dapat ditentukan oleh sebuah model pembuatan keputusan,
maka pengukuran terhadap properti tersebut dikatakan relevan (dengan model
keputusan). Apabila suatu properti tidak dapat ditentukan oleh sebuah model
pembuatan keputusan, maka pengukuran terhadap properti tersebut dikatakan tidak
relevan (dengan model keputusan).
Teori
1. Analisis Time-Series
Analisis time series adalah pendektana
metodologis struktural dimana dependensi statistik temporal dalam kumpulan data
dapat diperiksa. Penelitian analisis time
series berfokus pada properti waktu dari laba yang dilaporkan dan masalah
prediksi.
2. Prediksi Kebangkrutan
Penerapan yang paling
relevan dari pendekatan prediktif adalah usaha yang dilakukan untuk mecari
karakteristik yang divalidasi secar emiris yang membedakan secar finansial
dengan tertekan dari perusahaan yang tidak berwawasan. Model univariat dan
multivariat digunakan untuk membantu auditor memastikan kapan perusahaan
mendekati kegagalan.
3. Prediksi Premium
Obligasi dan Peringkat Obligasi
Empat faktor berikut
diasumsikan menciptakan risiko obligasi dan akibatnya memengaruhi hasil
terhadap jatuh tempo obligasi.
a.
Default Risk: ketidakmampuan
perusahaan untuk memenuhi sebagian atau seluruh pembayaran bunga dan pokok
obligasi.
b.
Marketability
risk:
kemungkinan harus membuang obligasi dengan kerugian.
c.
Purchasing power
risk:
kerugian yang ditimbulkan oleh pemegang obligasi akibat perubahan tingkat harga
umum.
d.
Interest rate risk: pengaruh
perubahan tak terduga suku bunga terhadap nilai pasar obligasi.
4. Perilaku
Restrukturisasi Perusahaan
Restrukturisasi
perusahaan secara internasional juga mencakup merger, konsolidasi, divestasi,
transaksi pribadi, pengaruh buy-out,
dan spin-off, yang ditujukan untuk
memaksimalkan nilai pasar dari ekuitas yang dimilki oleh pemegang saham yang
ada atau memaksimalkan kesejahteraan menajemen yang ada.
5. Keputusan Kredit dan
Pinjaman Bank
Keputusan perdagangan dan
pemberian pinjaman merupakan contoh lain dari peristiwa ekonomi yang dapat
dijelaskan dan/atau diprediksi berdasarkan informasi akuntansi dan informasi
keuangan lainnya. Keputusan pemberian pinjaman bak juga menjadi subjek
penlitian empiris dan prediktif. Tiga bidang penelitian dapat diidentifikasi
sebagai berikut:
a.
Membahas
upaya untuk mensimulasikan aspek proses investasi dan pemberian pinjaman bank.
b.
Memprediksi
keputusan klasifikasi pinjaman.
c.
Memperkirakan
dan memprediksi tekanan keuangan bank umum.
6. Peramalan Informasi
Laporan Keuangan
Karena analis keamanan
berfokus pada lingkungan A.S., akuntansi manajemen danmanajer keuangan
perusahaan multinasional mungkn bergantung pada usaha mereka sendiri untuk
meramalkan perusahaan lain dan mmberikan perkiraan pendapatan mereka sendiri.
Pilihan teknik mereka adalah mekanis atau nonmekanis dan univariat atau multivariat.
Metode
Para
pengguna paradigma cenderung untuk tergantung pada teknik-teknik empiris dalam
menentukan kemampuan prediktif dari elemen-elemen informasi yang terpilih.
Pendekatan yang umumnya digunakan dalam analisis diskriminan untuk mengelomokkannya
dalam suatu bentuk kelompok dari sejumlah kelompok yang ada sebelumnya,
tergantung pada karakteristik keuangan perusahaan secara individual.
D. Paradigma Kegunaan Keputusan/Pengambil Keputusan/Perilaku Pasar Agregat
Karya Gonedes dan Dopuch
adalah contoh dari paradigma ini. Dalam tulisannya yang bersifat pelopor,
Gonedesmengembangkan ketertarikan dalam kegunaan keputusan dari respon pengguna
secara individual ke respon pasar secara keseluruhan. Dengan berpendapat bahwa
respon pasar terhadapa perhitungan akuntansi akan mengarahkan penilaian
kandungan informasi perhitungan tersebut, serta terhadap prosedur yang
digunakan untuk membuat informasi tersebut. Gonedes mengembangkan model
paradigma pasar secara keseluruhan yang menyatakan bahwa prosedur perhitungan
akuntansi memiliki kandungan informasi yang dinyatakan oleh respon pasar.
Untuk
membalas argumen bahwa prosedur yang digunakan untuk menghasilkan perhitungan
tersebut mungkin dipengaruhi oleh ketidakefisienan pasar dan bahwa respon
penerima informasi mungkin akan terkondisikan pada perhitungan akuntansi dengan
cara tertentu. Gonedes berpendapata bahwa apabila kedua kondisi tersebut benar,
kesempatan bagi siapa saja yang dapat memeroleh informasi tersebut untuk
mendapat abnormal return akan disajikan sebagai dasar untuk mematikan paradigma
pasar dalam hubungannya dengan konsep pasar modal yang efisien.
Dalam
tulisannya yang memeroleh penghargaan, Gonedes dan Dopuch menyajikan suatu
kerangka teoritis untuk menilai prosedur dan pengaruh dari akuntansi alternatif
yang disenangi. Pendekatan mereka menekankan pada penggunaan harga saham oleh
pemiliki. Gonedes dan Dopuch menyimpulkan bahw analisis yang didasarkan pada
harga akan memadai untuk menilai pengaruh prosedur akuntansi alternatif.
Kesimpulan ini, terutama didasarkan pada kasus kegagalan pasar, dimana pada
kasus tersebut informasi untuk kepentingan umum tidak dapat dipisahkan dari nonpurchaser. Pada sejumlah kasus, harga
saham perusahaan tidak dapat digunakan untuk menilai keunggulan prosedur atau
peraturan akuntansi alternatif. Diantara kegagalan pasar yang mungkin terjadi
isu seleksi yang bersifat merugikan. Contoh lainnya adalah pengaruh informasi
pada kelengkapan pasar dan pengaturan distribusi risiko yang efisien. Gonedes
dan Dopuch juga mencatat bahwa sejumlah kritik didasarkan pada efisiensi pasar
modal tentang penilaian pengaruh apabila mereka melakukan penilaian terhadap
keunggulannya.
Suatu
bentuk karya kontemporer yang dilakukan Beaver juga dipandang sebagai contoh
yang patut diikuti dalam paradigma kegunaan keputusan. Beaver mengeluarkan isu
tentang pentingnya hubungan antara data akuntansi dan perilaku sekuritas. Hal
ini patut dipikirkan karena Beaver berpendapat bahwa sistem informasi yang
optimal bagi investor dapat dipilih tanpa pengetahuan bagaimana data akuntansi
dimasukkan dalam harga, karena harga ini menentukan kesejahteraan dan akibat
kesejahteraan dari keputusan investasi individu dalam banyak periode.
Gambaran
Pokok Masalah
Bagi para pengguna
pardigma ini, pokok masalah sesungguhnya adalah respon pasar secara keseluruhan
terhadap variabel-variabel akuntansi. Para penulis diatas, berpendapat bahwa
manfaat keputusan secara umum dalm variabel akuntansi dapat diperoleh dari
perilaku pasar secara keseluruhan, atau seperti yang disajikan oleh Gonedes dan
Dopuch, hanya pengaruh prosedur akuntansi alternatif atau spekulasi yang dpaat
dinilai dari perilaku pasar secara keseluruhan. Menurut Gonedes dan Dopuch,
pemilihan sistem informasi akuntansi ditentukan oleh perilaku pasar secara
keseluruhan.
Teori
Hubungan antara peril;aku
pasar agregat dan variabel akuntansi didasarkan pada teori mengenai:
1.
Model
pasar efisien, secar umum diasumsikan bahwa pasar sekuritas efisien. Sebuah
pasar yang berada dalam ekuilibrium secara terus menerus, sehingga nilai
intrinsik dan nilai pasar sekuritas selalu sama.
2.
Capital
Asset Pricing Model, menentukan hubungan antara tingkat pengembalian yang
diharapkan dan hargas saham individual yang bersangkutan.
3.
Arbitary
Pricing Theory, mengasumsikan bahwa pengembalian keamanan terkait dengan
sejumlah faktor yang tidak diketahui. Model multifaktor akan menjadi paradigma
agregat perilaku pasar dan teori ekuilibrium harga opsi.
Metode
1. Model Pasar
Model pasar menegaskan
bahwa pengembalian setiap keamanan berhubungan secara linear dengan tingkat
pengembalian pasar. Model ini telah digunakan dalam kebanyakan penelitian yang
mengevaluasi hubungan antara pengembalian pasar dan pengembalian akuntansi
2. Estimasi Beta
Perkiraan risiko
sistematis atau beta pada dasarnya diperlukan untuk penelitian yang menguji
dampak pasar dari informasi akuntansi, dan asosiasi beta dengan indikator
berbasis akuntansi. Karena potensi masalah ekonometrik kesalahan dalam model
pasar diperkirakan ada beberapa koreksi yang diperlukan
3. Metodologi Penelitian
Peristiwa
Metodologi penelitian peristiwa
digunakan untuk mempelajari efek kekayaan pemegang saham setelah pengumuman
sebuah peristiwa.
4. Model Valuasi Ohlson
Model ini, mealkukan
penilaian pasar ekuitas perusahaan dengan fungsi linear dan stokastik dari
nilai buku ekuitas, pendapatan lancar, dividen lancar, dan variabel yang
mewakili faktor lain yang relevan.
5. Model Keseimbangan
Tingkat Harga
Model ini berfokus pada
hubungan antara nilai ekuitas dan nilai buku
6. Isi Informasi Laba
Isi informasi penghasilan
umumnya diuji oleh hubungan antara tingkat pengembalian keamanan dan pendapatan
tak terduga.
7. Model Hubungan
Penghasilan dan Laba
Dua model hubungan antara
laba dan imbal hasil telah digunakan dalam penelitian.
a.
Model
A, mendasarkan asosiasi pengembalian dan pendapatan pada model valuasi buku.
b.
Model
B, mendasarkan asosiasi laba dan laba pada model penilaian laba.
Evaluasi
Pasar Berdasarkan Penelitian Akuntansi
1. Penelitian Isi
Informasi
Penelitian ini
menggunkana kontribusi informasi marjinal dari sinyal akuntansi untuk menguji
penentuan perilaku pengembalian keamanan. Pendekatan yang digunakan adalah
untuk memriksa apakah pengumuman beberapa peristiwa menghasilkan perubahan
karakteristik distribusi pengembalian saham.
2. Perbedaan Sukarela dan
Perubahan dalam Teknik Akuntansi
Penelitian ini mengkaji
dampak perbedaan dan perubahan pada investor. Masalahnya adalah apakah pasar
itu hebat, tidak dibodohi oleh perbedaan akuntansi.
3. Dampak Pasar dari
Regulasi Akuntansi
Penelitian ini berkaitan
dengan efek pasar terhadap aturan akuntansi. Efek penelitian yang disorot di
bidang ini berfokus pada akuntansi bisnis, minyak dan gas, dan biaya
penggantian.
4. Dampak Disiplin
Berkaitan
Dampak disiplin berkaitan
mencakup implikasi bukti pelaporan keuangan dan kecukupan metodologi yang
digunakan (bukti anomali mengenai efisiensi pasar, variabel seleksi diri dan
variabel yang dihilangkan, efek membingungkan, waktu dampak pasar modal, dan
pilihan kelompok pengendalian).
E. Paradigma Kegunaan Kepuusan/Pengambil Keputusan/Pengguna Individu
Bruns
mengajukan hipotesis bahwa hubungan pemakaian informasi akuntansi dan informasi
akuntansi yang relevan dengan konsep pembuatan keputusan akuntansi; serta
informasi lain yang tersedia untuk memengaruhi keputusan. Karya William Bruns
mungkin dapat dipertimbangkan sebagai contoh paradigma ini. Hipotesis ini juga
dikembangkan dalam sebuah model yang mengidentifikasi dan menghubungkan
sejumlah faktor yang dapat menentukan kapan suatu keputusan dipengaruhi oleh
sistem dan informasi akuntansi. Penelitian dalam bidang akuntansi keperilakuan
merupakan penelitian tentang bagaimana fungsi dan pelaporan akuntansi
memengaruhi perilaku akuntan dan bukan akuntan.
Gambaran
Pokok Masalah
Bagi
mereka yang mengarapkan paradigma kegunaan keputusan/engambil
keputasan/pengguna individu, subjek permasalahn yang mendasar adalah respon
dari pengguna individu terhadap variabel akuntansi. Para pendukung paradigma
ini berpendapat bahwa secara umum manfaat variabel akuntansi. Para pendukung
paradigma ini berpendapat bahwa secara umum manfaat variabel akuntansi terhadap
pembuatan keputusan dapat dilihat dari sudut perilaku manusia. Dengan kata
lain, akuntansi dipandang sebagai proses keperilakuan. Tujuan penelitian
akuntansi keperilakuan adalah untuk memahami, menguraikan, dan memprediksi
perilaku manusia dalam hubungannya dengan akuntansi. Paradigma ini berhubungan
dengan kepentingan penggunaa akuntansi secara internal, prosedur dan penilai
informasi, serta masyarakat umum atau perwakilannya.
Teori
1. Relativisme Kognitif
dalam Akuntansi
Esensi relativisme
kognitif dalam akuntansi adalah adanya proses kognitif yang diasumsikan
membimbing proses penghakiman/keputusan. Model ini menunjukkan bahwa penilaian
dan keputusan yang dibuat tentang fenomena akuntansi adalah produk dari satu
operasi kognitif sosial yang mencakup pengamatan informasi mengenai fenomena
akuntansi dan informasi skema yang disimpan dalam ingatan dan kemudian diambil
untuk memungkinkan pembentukan penilaian dan atau keputusan saat dibutuhkan.
2. Relativisme Budaya
dalam Akuntansi
Relativisme budaya
menyatakan bahwa budaya membentuk fugsi kognitif individu yang dhadapi dengan
fenomena akuntansi atau auditing. Budaya bisa menjadi otak dalam penelitian
akuntansi.
3. Pengaruh Keperilakuan
dari Informasi Akuntansi
Gagasan
bahwa informasi akuntansi, dalam hal isi dan formatnya mungkin berdampak pada
pengambilan keputusan individu, walaupun mungkin dan mudah diterima,
menyarankan jalan penelitian untuk perbaikan sistem akuntansi dan pelaporan.
Oleh karena itu, penelitian di bidang ini telah meneliti model pelaporan
alternatif dan praktik pengungkapan untuk melakukan penilaian yang ada dalam
kaitannya dengan relevansi dan dampak perilaku.
4. Model Pemrosesan
Informasi yang Berhubungan dengan Manusia
Ketertarikan pada
pemrosesan informasi manusia muncul dari keinginan untuk memperbaiki baik
kumpulan informasi yang disampaikan kepada pengguna data keuangan dan kemampuan
pengguna tersebut untuk menggunakan informasi tersebut. Teori dan model
menyediakan alat untuk mengubah isu akuntansi menjadi isu pemrosesan informsi
generik. Ada tiga komponen utama informasi:
a.
Input,
fokus pada variabel yang memengaruhi cara orang memproses informasi untuk
pengambilan keputusan.
b.
Proses,
fokus pada variabel yang memengaruhi pengambil keputusan.
c.
Output,
fokus pada variabel yang berkaitan dengan penilaian, prediksi, atau keputusan
yang memengaruhi cara pengguna memproses informasi.
5. Relativisme Linguistik
dalm Akuntansi
Akuntansi dapat
digambarkan sebagai bahas mengingat adanya dua komponen representasi simbolis
dan karakteristik gramatikal. Hasil penelitian akuntansi perilaku awal berusaha
untuk memeriksa makna konotasi dan denotasi dari kendala dan menyelidiki
perbedaan persepsi.
6. Fungsional dan Fiksasi
Data
Fiksasi fungsional dalam
akuntansi menunjukkan bahwa dalam keadaan tertentu, pembuat keputusan tidak
dapat menyesuaikan proses pengambilan keputusannya dengan perubahan yang ada
dalam proses akuntansi. Fiksasi fungsional berasal dari konsep psikologi yang muncul
dari investigasi dampak pengalaman masa lalu terhadap perilaku manusia.
7. Induktasi Informasi
Induktasi informasi
berarti perilaku individu diperngaruhi oleh informasi yang sama yang diminta
untuk diproduksi dan dikomunikasikan. Fenomena induktansi akuntanso dipengaruhi
dalam situasi dengan informasi baik melalui penggunaan informasi ketika
individu tersebut adalah pengguna maupun melalui induktansi informasi ketika
individu adalah produsen informasi.
8. Organisasi dan Slack Anggaran
Kelonggaran organisasi
dan kelonggaran anggaran adalah dua konstruksi hipotesis untuk menjelaskan
fenomena organisasi yang lazim dalam semua bentuk organisasi.
9. Pendekatan Kontinjensi
dalam Rancangan Sistem Akuntansi
Pendekatan teori
kontinjensi terhadap perancangan sistem akuntansi mengasumsikan bahwa strategi
umum yang berlaku untuk semua organisasi tidak ada. Asumsinya, perancangan
komponen variasi sistem akuntansi bergantung pada kompetensi spesifik yang
dapat menciptakan sebuah kecocokan yang sempurna. Hal ini merupakan keseuaian
kesempurnaan antara kontinjensi spesifik dan berbagai karakteristik sistem
akuntansi. Sampai saat ini, formulasi kontinjensi sudah mempertimbangkan dampak
teknologi, struktur organisasi dan teori.
10. Anggaran Partisipatif
dan Kinerja
Partisipasi dalam
anggaran memerlukan keterlibatan bawahan dalam menetapkan standar yang
memengaruhi operasi dan penghargaan mereka. Manfaat penganggaran partisipatif
adalah hal ini akan memperbaiki sikap, produktivitas, dan kinerja.
Metode
Para pengguna paradigma
ini cenderung untuk menggunakan seluruh metode yang disukai oleh para ahli
keperilakuan-teknit pengamatan, wawancara, dan kuesioner serta eksperimen
merupakan metode yang banyak digunakan. Hal ini juga merupakan awal yang baik
untuk suatu proses pengakuan.
KESIMPULAN
Paradigma
antropologis/Induktif berpendapat bahwa perhatian utama dari akuntansi adalah
berfungsinya hubungan-hubungan akuntabilitas di antara pihak-pihak yang
berkepentingan. Pengukuran objektifnya adalah kinerja ekonomi dari perusahaan.
Paradigma
laba sebenarnya/deduktif berbagi suatu
perhatian pada pendekatan normatif-deduktif terhadap penyusunan suatu teori akuntansi
dan dengan pengecualian, keyakinan bahwa idealnya, laba diukur dengan
menggunakan dasar penelitian tunggal akan mampu memenuhi kebutuhan dari semua
pengguna. Para peneliti ini juga sepenuhnya menyetujui pendapat
bahwa informasi harga saat ini adalah lebih berguna daripada informasi biaya
historis yang konvesnsional bagi para pengguna dalam membuat pengambilan
keputusan ekonomi.
Paradigma kegunaan keputusan/model keputusan berpendapat
bahwa akuntansi merupakan suatu akibat yang wajar dari asumsi adanya manajemen
yang rasional bahwa akan terdapat suatu sistem yang memberikan informasi, di
mana sistem semcam itu diminta baik sebagai dasar untuk meninjau
konsekuensi-konsekuensi dari keputusan. Sebuah sistem yang memberikan informasi
secara formal akan memenuhi kedua dalil di atas. Hal yang pertama
merupakan suatu persyaratan dari sebuah wacana logis.
Sistem
secara logika hendaknya konsisten; tidak diperbolehkan adanya aturan atau
proses yang bertentangan dengan aturan atau proses manapun juga. Dalil yang
kedua muncul dari penggunaan laporan akuntansi sebagai suatu dasar untuk
pengambilan keputusan dengan konsekuensi praktis. Informasi yang diberikan oleh
sistem semacam itu hendaknya relevan dengan jenis keputusan yang diharapkan
akan difaslitasi oleh pembuatnya.
Paradigma
keputusan dari respon pengguna secara individual berpendapat bahwa respon pasar
terhadap perhitungan akuntansi akan mengarahkan penilaian kandungan informasi
perhitungan tersebut, serta terhadap prosedur yang digunakan untuk membuat
informasi tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Riahi,
Ahmed.1990. Accounting,
A Multiparadigmatic Science. British Library Cataloguing.United
States of America
Tidak ada komentar:
Posting Komentar