BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dalam tulisan ini, kami berusaha untuk mengidentifikasi
atribut, ruang lingkup, dan implikasi utama dari praktik akuntansi kuno dengan
maksud untuk mengartikulasikan relevansinya dengan teori akuntansi kontemporer.
Hal ini sangat menarik untuk dibahas. Pertama, sejumlah besar
studi yang meneliti akuntansi dalam peradaban kuno telah berfokus pada aspek
teknis dari praktik semacam itu. Sebaliknya, pemahaman kita tentang literatur
kami di sini menunjukkan wawasan kaya yang bisa memiliki dampak yang mendalam
pada peningkatan pengetahuan kita tentang peran akuntansi dalam organisasi dan
masyarakat dan berkontribusi untuk usaha kontemporer dalam akuntansi. Secara
khusus, kami berpendapat bahwa penekanan pada konteks kuno akan memungkinkan
kita untuk berkontribusi pada debat hadir pada peran akuntansi dalam penyebaran
berbagai bentuk akuntabilitas. Kedua, selain beragam topik yang dibahas oleh
akademisi akuntansi, banyak kontribusi terhadap bidang ini telah dilakukan oleh
spesialis sejarah kuno seperti ahli ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, kami akan mengungkap beberapa hal penting tersebut
dalam tulisan ini.
B.
Rumusan Masalah
Rumusan
masalah yang dapat diambil adalah bagaimana peradaban kuno dunia dan awal
hadirnya akuntansi.
C.
Maksud Dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan dari rumusan masalah di atas adalah agar mampu memahami peradaban kuno
dunia dan awal hadirnya akuntansi?
BAB II
PEMBAHASAN
Jauh
sebelum Eropa keluar dari gubuk dan pakaian binatang, perekonomian yang canggih
sudah terbit di Timur Tengah dan Timur Jauh. Sebagian besar skenario mengakui
bahwa sitem pencatatan telah ada dalam berbagai peradaban sejak kurang lebih
3000 SM. Diantaranya adalah peradaban kaidea-babilonia, Asiria, dan Samaria.
Yang merupakan pembentuk sistem pemerintahan pertama di dunia, pembentuk sistem
tulisan tertua, dan pembuat catatan tertua.
Peradaban
mesir, dimana para penulis membentuk poros tempat berputarnya seluruh mesin
keuangan dan departemen tempat berputarnya seluruh mesin keuangan dan
departemen. Peradaban cina, dengan akuntansi pemerintahan yang memainkan peran
kunci dan canggih dinasti chao (1122-256 SM). Sementara catatan mengenai
kebudayaan yang canggih di India berasal dari tahun 2300 SM. Peradaban yunani,
dimana Zenon, manajer estate Appolonius, memperkenalkan sistem akuntansi
pertanggungjawaban yang luas pada tahun 256 SM. Peradaban Roma, dengan hukum
yang menentukan bahwa pembayar pajak harus membuat laporan posis keuangan dan
dengan hak sipil yang tergantung pada tingkat kekayaan yang dinyatakan warga
negara. Namun, sebagian
besar dari hal tersebut akan dibahas di pertemuan selanjutnya.
Peradaban Mesopotamia
Mesopotamia
(mesos : tengah, potamos : sungai) adalah sebuah daerah yang terletak di antara dua
sungai besar, yaitu Sungai Eufrat (2.815 km) dan Sungai Tigris (2.045 km).
Kawasan ini merupakan daerah pertanian yang sangat subur, membentang dari Laut
Tengah sampai Teluk Persia. Daerah ini lebih dikenal dengan sebutan “daerah
subur bulan sabit” atau dalam bahasa inggris nya “the fertile crescent”, karena bentuk daerahnya menyerupai bulan
sabit.
Daerah ini sangat strategis untuk perdagangan
karena menghubungkan jalur perdagangan antara Asia Selatan dengan Turki,
Armenia, dan dari Laut Tengah dengan Asia Timur. Mesopotamia sekarang termasuk
negara Irak, Iran, dan Suriah. Secara geografis kawasan Mesopotamia merupakan
kawasan yang sangat terbuka, sehingga Mesopotamia tidak memiliki perlindungan alam
yang baik. Kondisi ini menyebabkan banyaknya bangsa asing silih berganti
menguasai daerah ini.
Selama
periode 8000-3700 SM, daerah subur bulan sabit menyaksikan penyebaran
permukiman kecil (Postgate, 1992). Aktivitas ekonomi di daerah ini diuntungkan sebagai
banjir dari sungai Tigris dan Efrat, yang memungkinkan dua panen melimpah
sereal per tahun (misalnya, barley dan gandum), serta memberikan kondisi yang
tepat untuk praktek ternak (misalnya, kambing , domba-domba). Berbeda dengan
lahan yang sangat subur, daerah ini kekurangan sumber daya alam seperti kayu,
batu, dan logam mulia dan karenanya ada dasar yang kuat untuk berdagang dengan
daerah tetangga maupun di dalam Mesopotamia.
Token,
berbentuk bentuk geometris sederhana, seperti kerucut atau bola, digunakan
untuk tujuan pengelolaan, dalam kaitannya dengan identifikasi dan pengamanan
surplus untuk kebutuhan
masyarakat petani dari waktu ke waktu, namun tidak untuk perdagangan atau
pertukaran. Contoh akun semacam itu merujuk pada daftar properti pribadi. Lalu
beberapa saat setelah 5000 SM negara-kota mulai muncul dan ini memiliki fungsi
treasury yang menuntut pajak dan upeti dari penduduk dan token dikembangkan
untuk membantu dengan pajak dan upeti ini penilaian dan koleksi. kota ini
memiliki besar wilayah dan populasi yang cukup besar, dengan lahan yang luas
pertanian.
A. Bangsa Sumeria (3.500
– 2.300 tahun SM)
Sumeria
(sekitar 3.500 – 2.300 tahun SM) adalah salah satu peradaban kuno di Timur
Tengah, terletak di sebelah selatan Mesopotamia (tenggara Irak) dari catatan
terawal abad ke-4 SM sampai munculnya Babilonia pada abad ke-3 SM. Bahasa yang
digunakan adalah bahasa Sumeria.
Mereka
telah mengenal bercocok tanam dan sudah memiliki sistem pengairan.
Bangunan-bangunan mereka dibuat dari lumpur. Mereka menganut agama politheisme.
Bangsa
Sumeria merupakan bangsa yang pertama kali mendiami kawasan Mesopotamia,
sehingga bangsa Sumeria pantas disebut sebagai penduduk asli Mesopotamia.
Bangsa Sumeria datang dari wilayah Asia kecil sekitar tahun 3.500 tahun SM.
Pada awalnya, bangsa Sumeria mengolah lahan pertanian yang subur sebagai mata
pencahariannya. Lama kelamaan, bangsa Sumeria dapat membangun sistem pengairan
untuk menanggulangi banjir dan menyalurkan air ke lahan-lahan pertanian,
seperti sistem irigasi dan kanal. Dengan hasil pertanian yang melimpah, bangsa
Sumeria sekitar tahun 3.000 tahun SM membangun 12 kota-kota besar, di antaranya
kota Ur, Uruk, Lagash dan Nippur.
Pada awalnya, kota-kota tersebut merupakan kota-kota yang berdiri sendiri, sehingga disebut negara kota. Kemudian terjadilah peperangan di antara kota-kota tersebut dan yang kalah akan menjadi bawahan kota yang menang yang lama kelamaan memunculkan sistem pemerintahan kerajaan. Bangsa Sumeria mencapai mansa kejayaannya saat dipimpin oleh Raja Ur-Nammu. Namun, sekitar tahun 2.300 tahun SM bangsa Sumeria dapat ditaklukkan oleh bangsa Akkadia di bawah pimpinan Raja Sargon.
Bangsa Sumeria percaya bahwa banjir yang ditimbulkan Sungai Eufrat dan Tigris dapat menghancurkan kota-kota yang mereka bangun. Untuk itu, bangsa Sumeria membangun kuil-kuil yang megah dan indah di kota-kota mereka agar dewa menyukai mereka. Kuil-kuil tersebut mereka bangun sangat tinggi karena mereka percaya, semakin tinggi kuil semakin dekat mereka dengan dewa. Tinggi kuil-kuil tersebut mencapai 88 meter. Kuil tersebut mereka namakan Ziggurat.
Bangsa Sumeria menyembah banyak dewa, di antaranya
Dewa Enlil sebagai dewa bumi dan sekaligus sebagai dewa tertnggi yang menguasai
alam semesta, Dewa Enki sebagai dewa air, Dewa An sebagai dewa langit, dan Dewa
Samash sebagai dewa matahari.
B. Babylonia Lama (1.720
– 1.350 tahun SM)
Imperium
Sargon pada tahun 1.720 SM dapat dikalahkan oleh bangsa Amorit yang termasuk
rumpun Semit dari Jazirah Arab (sekarang Syiria). Bangsa Amorit ini kemudian
mendirikan ibukota baru di Babylon, sehingga periode ini dikenal dengan nama
Babylonia. Raja yang terkenal dan sangat berperan dalam perkembangan peradaban
Babylonia adalah Raja Hammurabi. Sumbangan terbesar Raja Hammurabi terhadap
peradaban dunia adalah Undang-Undang Hammurabi atau Kode Hukum Hammurabi.
Banyak
catatan akuntansi yang berasal dari masa
yang sangat dini. Misalnya para petani Mesir membayar para juru tagih dengan
gandum dan rami untuk pemakaian air irigasi. Tanda terima diberikan kepada para
petani degan menggambar banyak nya
gandum pada dinding rumah.
C. Assyria (1.350 – 627
tahun SM)
Bangsa Assyria yang tinggal di hulu sungai Eufrat dan sunga Tigris dapat mengalahkan kekuasaan bangsa Amorit atau Babylonia di bawah pimpinan Ashurballit pada tahun 1.350 SM. Muncullah kerajaan baru, yaitu kerajaan Assyria dengan ibu kota Nineveh. Bangsa Assyria adalah bangsa militer yang memerintah dengan menyebarkan rasa takut dengan melakukan kekejaman-kekejaman terhadap lawan-lawannya. Dengan keunggulan persenjataan, bangsa Assyria dapat menguasai seluruh Mesopotamia dan Mesir. Pada masa Assyria di bawah Raja Ashurbaniphal II, dibangun perpustakaan tertua di dunia yang mampu menampung 22.000 tablet yang berisi informasi-informasi di berbagai bidang kehidupan bangsa Mesopotamia.
D. Babylonia Baru (605 –
550 tahun SM)
Pada tahun 627 SM, bangsa Khaldea dapat
melepaskan diri dari kekuasaan bangsa Assyria dan membentuk imperium Babylonia
baru karena masih beribu kota di Babylon. Peradaban Babylonia baru ini
sebetulnya melanjutkan peradaban-peradaban sebelumnya terutama peradaban
Babylonia lama. Imperium ini mencapai puncak keemasannya pada masa pemerintahan
Raja Nebukadnezar II. Imperium ini berakhir pada tahun 530 SM, akibat
dikalahkan oleh bangsa Persia yang mendapat bantuan dari bangsa Media.
Bagi bangsa Amorit atau Babylonia, mereka percaya dewa tertinggi adalah Dewa Samash, atau lebih dikenal dengan nama Dewa Marduk. Bagi bangsa Assyria, dewa tertinggi adalah Dewa Ashur. Lain lagi dengan bangsa Persia yang cenderung percaya pada satu dewa. Seorang guru besar bernama Zarathustra atau Zoroaster pada abad ke 7 SM mengajarkan bahwa dunia ini ada dua kekuatan yang saling bertentangan. Yakni kekuatan baik dan jahat. Kekuatan yang baik disebut Ahura Mazda dan kekuatan yang jahat disebut Ahriman. Ajaran ini berkembang pada tahun 660 – 583 tahun SM ketika dianut oleh Raja Vihtaspa, ayah dari Raja Darius. Ajaran Zoroaster ini juga memiliki kitab suci yang mereka sebut Avesta.
E. Persia (525 – 331
tahun SM)
Setelah imperium Babylonia baru dapat
dikalahkan oleh bangsa Persia dan bangsa Media dari Indo-German, muncullah
imperium baru dibawah kekuasaan bangsa Persia. Raja pertama imperium Persia
adalah Cyrus dan raja terakhirnya adalah Xerxes. Imperium Persia memperoleh puncak
kejayaannya pada masa kekuasaan Raja Darius. Daerah kekuasaannya membentang
dari Mesopotamia, Mesir, sampai ke Sungai Indus. Namun sejak terjadinya
peperangan dengan Yunani, Persia mengalami kemunduran. Akhirnya Persia dapat
ditaklukkan oleh Raja Alexander agung pada tahun 331 SM.
KESIMPULAN
Gambaran di atas praktik akuntansi
dan akuntabilitas di Mesopotamia dan Mesir kuno mengungkapkan banyak wawasan.
Jauh dari teknologi yang sempurna, praktik akuntansi di kedua peradaban kuno
ditampilkan tingkat yang luar biasa detail dan kecanggihan. Prasasti akuntansi
berfungsi dalam banyak hal, mulai dari yang ruang privat untuk ruang publik,
dan dari kegiatan hidup untuk urusan orang mati.
Akuntansi
dikembangkan suatu alat yang mensyaratkan sistem perekaman hati-hati, dimana
entri menekankan jumlah yang ada, baik menggunakan penghitungan atau penilaian
melalui uang dari rekening, orang / lembaga yang terlibat, lokasi, dan tanggal.
Dalam kasus transaksi antara individu, entri mengklarifikasi debit dan kredit
yang terlibat, meskipun saat
itu belum ada debit dan kredit. Namun, hal itu sudah mengisyaratkan transaksi
debit dan kredit terjadi.
Dalam
kasus akuntansi untuk aktivitas manusia, seperti pembuatan alat, proyek-proyek
pembangunan, kegiatan penghitungan, dan peternakan, target yang ditetapkan di
muka, kerugian alam di konversi dipertanggungjawabkan, dan prestasi aktual
dibandingkan terhadap target, dengan keseimbangan luar biasa ditunjukkan dengan
jelas.
DAFTAR PUSTAKA
Carmona,
Salvador dan Mahmoud
Ezzamel. 2005. “Accounting And Forms Of
Accountability In Ancient Civilizations: Mesopotamia And Ancient Egypt”.
Instituto de Empresa Business School. UK
Wikipedia. 2017.
“Yerikho” https://id.wikipedia.org/wiki/Yerikho (Diakses pada tanggal 2 November 2017
______
, 2017. “Peradaban Kuno”. https://peradabankuno.wordpress.com/
(Diakses pada tanggal 2 November 2017).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar