Sabtu, 27 Maret 2021

ANCIENT CIVILIZATION (Peradaban Kuno) - Akuntansi

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

       Selama dua dekade terakhir, semakin banyak publikasi secara tidak langsung menantang pandangan bahwa pemeriksaan praktik akuntansi di peradaban kuno merupakan praktik kuno yang terletak di penyelidikan ilmiah, dan yang paling buruk tugas tersebut benar-benar sia-sia karena tidak ada relevansi. Penelitian terakhir, menunjukkan bahwa penyelidikan praktik akuntansi di peradaban kuno menyoroti sejumlah topik utama dari agenda penelitian, yang melibatkan isu-isu dalam perilaku, sosial, dan teori akuntansi. Hal penting untuk tujuan kita, kontribusi dalam rentang daerah ini, isu-isu yang beragam dan konteks, seperti pertukaran semi-barter, bekerja pada proyek-proyek masyarakat, perpajakan, dan negara-negara lainnya, dalam berbagai konteks sosio-politik dan ekonomi, mulai dari ekonomi dominan dikuasai negara dari Mesir kuno ke ekonomi Mesopotamia yang kurang didominasi oleh negara. Oleh karena itu, tidak sepenuhnya jelas, kecuali mereka yang akrab dengan lapangan, apa masalah dan konteks telah diperiksa dan apa masalah lebih lanjut harus tunduk dari lanjutan penyelidikan.

       Dalam tulisan ini, kami berusaha untuk mengidentifikasi atribut, ruang lingkup, dan implikasi utama dari praktik akuntansi kuno dengan maksud untuk mengartikulasikan relevansinya dengan teori akuntansi kontemporer. Hal ini sangat menarik untuk dibahas. Pertama, sejumlah besar studi yang meneliti akuntansi dalam peradaban kuno telah berfokus pada aspek teknis dari praktik semacam itu. Sebaliknya, pemahaman kita tentang literatur kami di sini menunjukkan wawasan kaya yang bisa memiliki dampak yang mendalam pada peningkatan pengetahuan kita tentang peran akuntansi dalam organisasi dan masyarakat dan berkontribusi untuk usaha kontemporer dalam akuntansi. Secara khusus, kami berpendapat bahwa penekanan pada konteks kuno akan memungkinkan kita untuk berkontribusi pada debat hadir pada peran akuntansi dalam penyebaran berbagai bentuk akuntabilitas. Kedua, selain beragam topik yang dibahas oleh akademisi akuntansi, banyak kontribusi terhadap bidang ini telah dilakukan oleh spesialis sejarah kuno seperti ahli ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, kami akan mengungkap beberapa hal penting tersebut dalam tulisan ini.

B.    Rumusan Masalah

 

Rumusan masalah yang dapat diambil adalah bagaimana peradaban kuno dunia dan awal hadirnya akuntansi.

 

C.    Maksud Dan Tujuan

 

Adapun maksud dan tujuan dari rumusan masalah di atas adalah agar mampu memahami peradaban kuno dunia dan awal hadirnya akuntansi?


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

Jauh sebelum Eropa keluar dari gubuk dan pakaian binatang, perekonomian yang canggih sudah terbit di Timur Tengah dan Timur Jauh. Sebagian besar skenario mengakui bahwa sitem pencatatan telah ada dalam berbagai peradaban sejak kurang lebih 3000 SM. Diantaranya adalah peradaban kaidea-babilonia, Asiria, dan Samaria. Yang merupakan pembentuk sistem pemerintahan pertama di dunia, pembentuk sistem tulisan tertua, dan pembuat catatan tertua.

Peradaban mesir, dimana para penulis membentuk poros tempat berputarnya seluruh mesin keuangan dan departemen tempat berputarnya seluruh mesin keuangan dan departemen. Peradaban cina, dengan akuntansi pemerintahan yang memainkan peran kunci dan canggih dinasti chao (1122-256 SM). Sementara catatan mengenai kebudayaan yang canggih di India berasal dari tahun 2300 SM. Peradaban yunani, dimana Zenon, manajer estate Appolonius, memperkenalkan sistem akuntansi pertanggungjawaban yang luas pada tahun 256 SM. Peradaban Roma, dengan hukum yang menentukan bahwa pembayar pajak harus membuat laporan posis keuangan dan dengan hak sipil yang tergantung pada tingkat kekayaan yang dinyatakan warga negara. Namun, sebagian besar dari hal tersebut akan dibahas di pertemuan selanjutnya.

Peradaban Mesopotamia

Mesopotamia (mesos : tengah, potamos : sungai) adalah sebuah daerah yang terletak di antara dua sungai besar, yaitu Sungai Eufrat (2.815 km) dan Sungai Tigris (2.045 km). Kawasan ini merupakan daerah pertanian yang sangat subur, membentang dari Laut Tengah sampai Teluk Persia. Daerah ini lebih dikenal dengan sebutan “daerah subur bulan sabit” atau dalam bahasa inggris nya “the fertile crescent”, karena bentuk daerahnya menyerupai bulan sabit.

  Daerah ini sangat strategis untuk perdagangan karena menghubungkan jalur perdagangan antara Asia Selatan dengan Turki, Armenia, dan dari Laut Tengah dengan Asia Timur. Mesopotamia sekarang termasuk negara Irak, Iran, dan Suriah. Secara geografis kawasan Mesopotamia merupakan kawasan yang sangat terbuka, sehingga Mesopotamia tidak memiliki perlindungan alam yang baik. Kondisi ini menyebabkan banyaknya bangsa asing silih berganti menguasai daerah ini.

Selama periode 8000-3700 SM, daerah subur bulan sabit menyaksikan penyebaran permukiman kecil (Postgate, 1992). Aktivitas ekonomi di daerah ini diuntungkan sebagai banjir dari sungai Tigris dan Efrat, yang memungkinkan dua panen melimpah sereal per tahun (misalnya, barley dan gandum), serta memberikan kondisi yang tepat untuk praktek ternak (misalnya, kambing , domba-domba). Berbeda dengan lahan yang sangat subur, daerah ini kekurangan sumber daya alam seperti kayu, batu, dan logam mulia dan karenanya ada dasar yang kuat untuk berdagang dengan daerah tetangga maupun di dalam Mesopotamia.

Token, berbentuk bentuk geometris sederhana, seperti kerucut atau bola, digunakan untuk tujuan pengelolaan, dalam kaitannya dengan identifikasi dan pengamanan surplus untuk kebutuhan masyarakat petani dari waktu ke waktu, namun tidak untuk perdagangan atau pertukaran. Contoh akun semacam itu merujuk pada daftar properti pribadi. Lalu beberapa saat setelah 5000 SM negara-kota mulai muncul dan ini memiliki fungsi treasury yang menuntut pajak dan upeti dari penduduk dan token dikembangkan untuk membantu dengan pajak dan upeti ini penilaian dan koleksi. kota ini memiliki besar wilayah dan populasi yang cukup besar, dengan lahan yang luas pertanian.

 


 

A. Bangsa Sumeria (3.500 – 2.300 tahun SM)

Sumeria (sekitar 3.500 – 2.300 tahun SM) adalah salah satu peradaban kuno di Timur Tengah, terletak di sebelah selatan Mesopotamia (tenggara Irak) dari catatan terawal abad ke-4 SM sampai munculnya Babilonia pada abad ke-3 SM. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Sumeria.

Mereka telah mengenal bercocok tanam dan sudah memiliki sistem pengairan. Bangunan-bangunan mereka dibuat dari lumpur. Mereka menganut agama politheisme.

Bangsa Sumeria merupakan bangsa yang pertama kali mendiami kawasan Mesopotamia, sehingga bangsa Sumeria pantas disebut sebagai penduduk asli Mesopotamia. Bangsa Sumeria datang dari wilayah Asia kecil sekitar tahun 3.500 tahun SM. Pada awalnya, bangsa Sumeria mengolah lahan pertanian yang subur sebagai mata pencahariannya. Lama kelamaan, bangsa Sumeria dapat membangun sistem pengairan untuk menanggulangi banjir dan menyalurkan air ke lahan-lahan pertanian, seperti sistem irigasi dan kanal. Dengan hasil pertanian yang melimpah, bangsa Sumeria sekitar tahun 3.000 tahun SM membangun 12 kota-kota besar, di antaranya kota Ur, Uruk, Lagash dan Nippur.

Pada awalnya, kota-kota tersebut merupakan kota-kota yang berdiri sendiri, sehingga disebut negara kota. Kemudian terjadilah peperangan di antara kota-kota tersebut dan yang kalah akan menjadi bawahan kota yang menang yang lama kelamaan memunculkan sistem pemerintahan kerajaan. Bangsa Sumeria mencapai mansa kejayaannya saat dipimpin oleh Raja Ur-Nammu. Namun, sekitar tahun 2.300 tahun SM bangsa Sumeria dapat ditaklukkan oleh bangsa Akkadia di bawah pimpinan Raja Sargon.

  Bangsa Sumeria percaya bahwa banjir yang ditimbulkan Sungai Eufrat dan Tigris dapat menghancurkan kota-kota yang mereka bangun. Untuk itu, bangsa Sumeria membangun kuil-kuil yang megah dan indah di kota-kota mereka agar dewa menyukai mereka. Kuil-kuil tersebut mereka bangun sangat tinggi karena mereka percaya, semakin tinggi kuil semakin dekat mereka dengan dewa. Tinggi kuil-kuil tersebut mencapai 88 meter. Kuil tersebut mereka namakan Ziggurat.

  Bangsa Sumeria menyembah banyak dewa, di antaranya Dewa Enlil sebagai dewa bumi dan sekaligus sebagai dewa tertnggi yang menguasai alam semesta, Dewa Enki sebagai dewa air, Dewa An sebagai dewa langit, dan Dewa Samash sebagai dewa matahari.

 

B. Babylonia Lama (1.720 – 1.350 tahun SM)

Imperium Sargon pada tahun 1.720 SM dapat dikalahkan oleh bangsa Amorit yang termasuk rumpun Semit dari Jazirah Arab (sekarang Syiria). Bangsa Amorit ini kemudian mendirikan ibukota baru di Babylon, sehingga periode ini dikenal dengan nama Babylonia. Raja yang terkenal dan sangat berperan dalam perkembangan peradaban Babylonia adalah Raja Hammurabi. Sumbangan terbesar Raja Hammurabi terhadap peradaban dunia adalah Undang-Undang Hammurabi atau Kode Hukum Hammurabi.

Banyak catatan akuntansi  yang berasal dari masa yang sangat dini. Misalnya para petani Mesir membayar para juru tagih dengan gandum dan rami untuk pemakaian air irigasi. Tanda terima diberikan kepada para petani degan menggambar banyak  nya gandum pada dinding rumah.

 

C. Assyria (1.350 – 627 tahun SM)

  Bangsa Assyria yang tinggal di hulu sungai Eufrat dan sunga Tigris dapat mengalahkan kekuasaan bangsa Amorit atau Babylonia di bawah pimpinan Ashurballit pada tahun 1.350 SM. Muncullah kerajaan baru, yaitu kerajaan Assyria dengan ibu kota Nineveh. Bangsa Assyria adalah bangsa militer yang memerintah dengan menyebarkan rasa takut dengan melakukan kekejaman-kekejaman terhadap lawan-lawannya. Dengan keunggulan persenjataan, bangsa Assyria dapat menguasai seluruh Mesopotamia dan Mesir. Pada masa Assyria di bawah Raja Ashurbaniphal II, dibangun perpustakaan tertua di dunia yang mampu menampung 22.000 tablet yang berisi informasi-informasi di berbagai bidang kehidupan bangsa Mesopotamia.

D. Babylonia Baru (605 – 550 tahun SM)

  Pada tahun 627 SM, bangsa Khaldea dapat melepaskan diri dari kekuasaan bangsa Assyria dan membentuk imperium Babylonia baru karena masih beribu kota di Babylon. Peradaban Babylonia baru ini sebetulnya melanjutkan peradaban-peradaban sebelumnya terutama peradaban Babylonia lama. Imperium ini mencapai puncak keemasannya pada masa pemerintahan Raja Nebukadnezar II. Imperium ini berakhir pada tahun 530 SM, akibat dikalahkan oleh bangsa Persia yang mendapat bantuan dari bangsa Media.

Bagi bangsa Amorit atau Babylonia, mereka percaya dewa tertinggi adalah Dewa Samash, atau lebih dikenal dengan nama Dewa Marduk. Bagi bangsa Assyria, dewa tertinggi adalah Dewa Ashur. Lain lagi dengan bangsa  Persia yang cenderung percaya pada satu dewa. Seorang guru besar bernama Zarathustra atau Zoroaster pada abad ke 7 SM mengajarkan bahwa dunia ini ada dua kekuatan yang saling bertentangan. Yakni kekuatan baik dan jahat. Kekuatan yang baik disebut Ahura Mazda dan kekuatan yang jahat disebut Ahriman. Ajaran ini berkembang pada tahun 660 – 583 tahun SM ketika dianut oleh Raja Vihtaspa, ayah dari Raja Darius. Ajaran Zoroaster ini juga memiliki kitab suci yang mereka sebut Avesta.

 

E. Persia (525 – 331 tahun SM)

  Setelah imperium Babylonia baru dapat dikalahkan oleh bangsa Persia dan bangsa Media dari Indo-German, muncullah imperium baru dibawah kekuasaan bangsa Persia. Raja pertama imperium Persia adalah Cyrus dan raja terakhirnya adalah Xerxes. Imperium Persia memperoleh puncak kejayaannya pada masa kekuasaan Raja Darius. Daerah kekuasaannya membentang dari Mesopotamia, Mesir, sampai ke Sungai Indus. Namun sejak terjadinya peperangan dengan Yunani, Persia mengalami kemunduran. Akhirnya Persia dapat ditaklukkan oleh Raja Alexander agung pada tahun 331 SM.


 

KESIMPULAN

 

            Gambaran di atas praktik akuntansi dan akuntabilitas di Mesopotamia dan Mesir kuno mengungkapkan banyak wawasan. Jauh dari teknologi yang sempurna, praktik akuntansi di kedua peradaban kuno ditampilkan tingkat yang luar biasa detail dan kecanggihan. Prasasti akuntansi berfungsi dalam banyak hal, mulai dari yang ruang privat untuk ruang publik, dan dari kegiatan hidup untuk urusan orang mati.

Akuntansi dikembangkan suatu alat yang mensyaratkan sistem perekaman hati-hati, dimana entri menekankan jumlah yang ada, baik menggunakan penghitungan atau penilaian melalui uang dari rekening, orang / lembaga yang terlibat, lokasi, dan tanggal. Dalam kasus transaksi antara individu, entri mengklarifikasi debit dan kredit yang terlibat, meskipun saat itu belum ada debit dan kredit. Namun, hal itu sudah mengisyaratkan transaksi debit dan kredit terjadi.

Dalam kasus akuntansi untuk aktivitas manusia, seperti pembuatan alat, proyek-proyek pembangunan, kegiatan penghitungan, dan peternakan, target yang ditetapkan di muka, kerugian alam di konversi dipertanggungjawabkan, dan prestasi aktual dibandingkan terhadap target, dengan keseimbangan luar biasa ditunjukkan dengan jelas.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Carmona, Salvador dan Mahmoud Ezzamel. 2005. “Accounting And Forms Of Accountability In Ancient Civilizations: Mesopotamia And Ancient Egypt”. Instituto de Empresa Business School. UK

 

Wikipedia. 2017. “Yerikho” https://id.wikipedia.org/wiki/Yerikho (Diakses pada tanggal 2 November 2017

 

 

______ , 2017. “Peradaban Kuno”. https://peradabankuno.wordpress.com/ (Diakses pada tanggal 2 November 2017).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ASPEK TEORI KONTINJENSI DALAM AKUNTANSI KEPERILAKUAN

  Teori Kontinjensi Menurut teori, sistem yang terbuka pada suatu perusahaan sangat berkaitan dengan interaksi untuk penyesuaian dan penge...