Ilmu akuntansi berkembang
di Indonesia dengan cukup variatif. Beragam teknik pencatatan, penggolongan,
dan pengikhtisaran tanpa sadar terjadi saat ini. Ada banyak hal yang dapat menjadi penyebabnya, mulai dari perbedaan pengetahuan, perbedaan jenis entitas,
hingga perbedaan paradigma berpikir entitas itu sendiri. Pengelolaan keuangan
di industri agrikultur akan mengalami perbedaan dari beberapa jenis entitas. Sebagai
contoh kasus, IAS 41 menjelaskan tentang bagaimana entitas agrikultur mengelola
pencatatan aset usahanya, di mana aset tersebut lebih kondisional dan memiliki
rentabilitas yang tinggi. Namun, jika kita menelisik lebih dalam, akan terjadi
perbedaan yang mencolok oleh perusahaan pertanian dan petani dalam menerapkan
prinsip akuntansi tersebut.
Dalam jurnal Kurniawan,
Rendra dkk. (2014) memberikan contoh
bagaimana pencatatan yang dilakukan oleh PT Sapta Karya Damai dan Bapak Yanto
sebagai seorang petani yang mengelola lahan pertaiannya sendiri. PT Sapta Karya
Damai menerapkan beberapa kerangka dasar dalam pencatatannya sebagai berikut:
- Penilaian aset didasarkan pada historical cost
- Aset biologis diklasifikasikan
menjadi aset produktif dan aset non Produktif
- Nilai aset terbentuk dari metode
kapitalisasi
- Mengimplementasikan depresiasi pada
aset Biologis
Sementara itu, Bapak
Yanto hanya melakukan pencatatan dalam bentuk Single-Entry Bookeeping. Hal yang sangat sederhana untuk sebuah
usaha pertanian. Bapak Yanto tentu menganggap pencatatan tersebut sebagai hal
yang parsial dari proses bisnis yang dijalankannya. Penentuan biaya pun dilakukan
dengan menggunakan intuisi dan menentukan estimasi harga yang melekat pada
produk pertaniannya. Sebagian besar petani lebih mengutamakan kegunaan dan
manfaat dari hasil pertanian tersebut ketimbang laba. Dari sisi stakeholder,
para petani lebih mengutamakan apa yang akan dirasakan oleh masyarakat dan
lingkungan sosial sekitarnya. Kepentingan masyarakat, keagamaan, dan tradisi
yang dikorbankan oleh para petani melalui hasil pertaniannya dianggap sebagai
konsumsi dari penghasilannya karena mendatangkan kebahagiaan tersendiri bagi
para petani.
Di lain sisi, PT Sapta
Karya Damai akan menggunakan prinsip akuntansi yang berlaku sesuai dengan
entitas bisnisnya. Ketika masyarakat sekitarnya memerlukan hibah, donasi, dan
jenis bantuan lainnya yang tentunya hal ini akan menjadi biaya yang mengurangi
pendapatan. Tentu hal ini tidaklah manusiawi, segala hal yang bersifat
pengorbanan (sacrifice), namun dapat
memberikan manfaat bagi banyak orang dipandang sebagai pengurang laba. Alhasil,
ilmu akuntansi pada IAS 41 dipandang sebagai prinsip yang bersifat non humanis
oleh sebagian penggunanya.
Hal yang berbeda terjadi
di Australia, masih terkait pada pengelolaan aset biologis. Australia
menerapkan Water Accounting dalam
pengelolaan air. Studi ini masih jarang terdengar di Indonesia. Sistem
pengelolaan air tersebut berbasis akrual yang terdiri dari beberapa laporan
sebagai berikut:
- Laporan Arus Air (Statement
of Physical Water Flows)
- Laporan Aset Air dan Liabilitas Air (Statement of Water Assets and Water
Liabilities)
- Laporan Perubahan pada Aset Air dan
Liabilitas Air (Statement of Changes in
Water Assets and Water Liabilities)
- Catatan Pengungkapan (Disclosure Notes)
- Laporan Kepatuhan (Compliance Statement)
- Laporan Keyakinan (Assurance Statement)
Dalam Jurnal Garstone,
Rikki A, Dkk. (2017) mengungkapkan bahwa pemerintah Australia menekankan kepada
korporasi untuk menyusun laporan tahunan terkait Water Accounting (Akuntansi Air)
dengan diterbitkan Australian Water Accounting Standards (AWAS). Penggunaan
laporan tersebut lebih ditekankan kepada korporasi di bidang pertambangan
mineral. Hal ini dikarenakan bidang pertambang memiliki risiko besar terhadap
kerusakan ekologi, khususnya pencemaran air. Akuntansi air akan memberikan
gambaran yang jelas terkait jumlah kubik air yang digunakan untuk proses bisnis
dan bagaimana proses bisnis tersebut dapat menyebabkan pencemaran air jika air
bersih telah bercampur dengan limbah hasil pengolahan bahan pertambangan.
Newmarket Gold, salah
satu perusahaan pertambangan di Australia, memiliki area pertambangan di
wilayah utara Australia. Newmarket Gold mengembangkan sistem daur ulang air
yang digunakan dalam proses bisnis perusahaan menjadi bersih seperti semula.
Dengan beberapa tahapan filterisasi, air tersebut dapat kembali bersih. Air
yang sebelumnya dalam keadaan kotor, kemudian dikonversi menjadi air yang dalam
kondisi sedang didaur ulang, hingga dapat digunakan kembali. Air yang dikelola
inilah yang menjadi aset bagi Newmarket Gold. Akuntansi air yang diterapkan
oleh Newmarket Gold menjadi dasar Garstone untuk menghimbau pihak regulator
pemerintah Australia untuk tetap konsisten dalam penekanan penerapan akuntansi
air.
Akuntansi air adalah satu
contoh bagaimana korporasi mengelola pencatatan sehingga pencatatan tersebut
tidak hanya menampilkan hasil proses bisnis yang menguntungkan, tetapi juga sebagai
bahan untuk mengevaluasi kelayakan proses bisnis tersebut terhadap ekosistem.
Pembahasan sistem akuntansi secara menyeluruh akan menjadi kalut jika tidak
menelisik kepentingan-kepentingan stakeholder lainnya. Masyarakat dan
lingkungan adalah bagian penting dari proses bisnis, oleh karena itu sistem
akuntansi yang terbentuk tidak mesti menampilkan prestasi perusahaan dalam
menghasilkan laba, namun juga bisa menjelaskan bagaimana lingkungan dan
kehidupan sosial tetap terjaga. Pertanggungjawaban terhadap para stakeholder
akan memberikan pandangan kepada korporasi dalam mengelola proses bisnisnya.
Akuntansi air tidak mengajarkan bagaimana aset air tersebut harus memiliki
kuantitas yang lebih banyak daripada liabilitas air, tetapi memberikan arahan
kepada Newmarket Gold dalam mengelola air secara efisien melalui proses daur
ulang.
Indonesia, sebagai negara
mayoritas Islam, memiliki sudut pandang yang berbeda-beda dalam mengkaji ilmu
akuntansi. Dalam Jurnal Zaelani, Kamaruddin (2015) mengungkapkan bahwa
pengembangan ilmu pengetahuan tidak hanya berhenti pada satu poin tetapi pada
suatu poin yang mendahului poin-poin lainnya yang sangat bervariasi dari segi
corak dan warna. Poin tersebut yang disebut Al Quran dan Al Hadist.
Perkembangan ilmu pengetahuan akan diobservasi dari awal hingga akhir kehidupan.
Penyusunan standar
akuntansi yang humanis akan terbentuk dari hasrat manusiawi pengambil kebijakan
di korporasi. Petani-petani akan menganggap bahwa pengorbanan mereka dengan
menyumbangkan hasil pertanian dalam acara keagamaan dan ritual adat lainnya
sebagai laba usaha. Oleh karena itu, sebagian besar cenderung tidak
mengaplikasikan standar akuntansi yang berlaku. Berbeda halnya pada proses
penyusunan laporan keuangan perusahaan, tentu hal tersebut akan menjadi
pengurang pendapatan pada laporan Rugi Laba. Dibutuhkan laporan-laporan
pertanggungjawaban kepada masyarakat dan lingkungan agar korporasi dapat
berkembang menjadi perusahaan non kapitalis.
DAFTAR PUSTAKA
Kurniawan, Rendra dkk. 2014 . “Biological Asset Valuation Reconstruction: A Ctritical Study of IAS 41
on Agricultural Accounting in Indonesia. Procedia – Social and Behavioral
Sciences 164 68-75. International Conference on Accounting Studies 2014 (ICAS
2014) Kuala Lumpur, Malaysia.
Garstone, Rikki A, Dkk. 2017. “Accounting for Water in The Minerals
Industry: Capitalising on Regulatory Reporting”. Elsevier – Water Resources and
Industry.
Zaelani, Kamaruddin. 2015. “Philosophy of Science Actualization for Islamic Science Development Philosophical
Study on An Epistemological Framework for Islamic. Elsevier-Pasific Science
Review B: Humanities and Social
Tidak ada komentar:
Posting Komentar