Sabtu, 27 Maret 2021

Perkembangan Akuntansi Lingkungan sebagai Upaya Merajut Kehidupan yang Manusiawi

Ilmu akuntansi berkembang di Indonesia dengan cukup variatif. Beragam teknik pencatatan, penggolongan, dan pengikhtisaran tanpa sadar terjadi saat ini. Ada banyak hal yang dapat menjadi penyebabnya, mulai dari perbedaan pengetahuan, perbedaan jenis entitas, hingga perbedaan paradigma berpikir entitas itu sendiri. Pengelolaan keuangan di industri agrikultur akan mengalami perbedaan dari beberapa jenis entitas. Sebagai contoh kasus, IAS 41 menjelaskan tentang bagaimana entitas agrikultur mengelola pencatatan aset usahanya, di mana aset tersebut lebih kondisional dan memiliki rentabilitas yang tinggi. Namun, jika kita menelisik lebih dalam, akan terjadi perbedaan yang mencolok oleh perusahaan pertanian dan petani dalam menerapkan prinsip akuntansi tersebut.

Dalam jurnal Kurniawan, Rendra  dkk. (2014) memberikan contoh bagaimana pencatatan yang dilakukan oleh PT Sapta Karya Damai dan Bapak Yanto sebagai seorang petani yang mengelola lahan pertaiannya sendiri. PT Sapta Karya Damai menerapkan beberapa kerangka dasar dalam pencatatannya sebagai berikut:

  1. Penilaian aset didasarkan pada historical cost
  2. Aset biologis diklasifikasikan menjadi aset produktif dan aset non Produktif
  3. Nilai aset terbentuk dari metode kapitalisasi
  4. Mengimplementasikan depresiasi pada aset Biologis
Sementara itu, Bapak Yanto hanya melakukan pencatatan dalam bentuk Single-Entry Bookeeping. Hal yang sangat sederhana untuk sebuah usaha pertanian. Bapak Yanto tentu menganggap pencatatan tersebut sebagai hal yang parsial dari proses bisnis yang dijalankannya. Penentuan biaya pun dilakukan dengan menggunakan intuisi dan menentukan estimasi harga yang melekat pada produk pertaniannya. Sebagian besar petani lebih mengutamakan kegunaan dan manfaat dari hasil pertanian tersebut ketimbang laba. Dari sisi stakeholder, para petani lebih mengutamakan apa yang akan dirasakan oleh masyarakat dan lingkungan sosial sekitarnya. Kepentingan masyarakat, keagamaan, dan tradisi yang dikorbankan oleh para petani melalui hasil pertaniannya dianggap sebagai konsumsi dari penghasilannya karena mendatangkan kebahagiaan tersendiri bagi para petani.

Di lain sisi, PT Sapta Karya Damai akan menggunakan prinsip akuntansi yang berlaku sesuai dengan entitas bisnisnya. Ketika masyarakat sekitarnya memerlukan hibah, donasi, dan jenis bantuan lainnya yang tentunya hal ini akan menjadi biaya yang mengurangi pendapatan. Tentu hal ini tidaklah manusiawi, segala hal yang bersifat pengorbanan (sacrifice), namun dapat memberikan manfaat bagi banyak orang dipandang sebagai pengurang laba. Alhasil, ilmu akuntansi pada IAS 41 dipandang sebagai prinsip yang bersifat non humanis oleh sebagian penggunanya.

Hal yang berbeda terjadi di Australia, masih terkait pada pengelolaan aset biologis. Australia menerapkan Water Accounting dalam pengelolaan air. Studi ini masih jarang terdengar di Indonesia. Sistem pengelolaan air tersebut berbasis akrual yang terdiri dari beberapa laporan sebagai berikut:
  1. Laporan Arus Air  (Statement of Physical Water Flows)
  2. Laporan Aset Air dan Liabilitas Air (Statement of Water Assets and Water Liabilities)
  3. Laporan Perubahan pada Aset Air dan Liabilitas Air (Statement of Changes in Water Assets and Water Liabilities)
  4. Catatan Pengungkapan (Disclosure Notes)
  5. Laporan Kepatuhan (Compliance Statement)
  6. Laporan Keyakinan (Assurance Statement)
Dalam Jurnal Garstone, Rikki A, Dkk. (2017) mengungkapkan bahwa pemerintah Australia menekankan kepada korporasi untuk menyusun laporan tahunan terkait Water Accounting (Akuntansi Air) dengan diterbitkan Australian Water Accounting Standards (AWAS). Penggunaan laporan tersebut lebih ditekankan kepada korporasi di bidang pertambangan mineral. Hal ini dikarenakan bidang pertambang memiliki risiko besar terhadap kerusakan ekologi, khususnya pencemaran air. Akuntansi air akan memberikan gambaran yang jelas terkait jumlah kubik air yang digunakan untuk proses bisnis dan bagaimana proses bisnis tersebut dapat menyebabkan pencemaran air jika air bersih telah bercampur dengan limbah hasil pengolahan bahan pertambangan.

Newmarket Gold, salah satu perusahaan pertambangan di Australia, memiliki area pertambangan di wilayah utara Australia. Newmarket Gold mengembangkan sistem daur ulang air yang digunakan dalam proses bisnis perusahaan menjadi bersih seperti semula. Dengan beberapa tahapan filterisasi, air tersebut dapat kembali bersih. Air yang sebelumnya dalam keadaan kotor, kemudian dikonversi menjadi air yang dalam kondisi sedang didaur ulang, hingga dapat digunakan kembali. Air yang dikelola inilah yang menjadi aset bagi Newmarket Gold. Akuntansi air yang diterapkan oleh Newmarket Gold menjadi dasar Garstone untuk menghimbau pihak regulator pemerintah Australia untuk tetap konsisten dalam penekanan penerapan akuntansi air.

Akuntansi air adalah satu contoh bagaimana korporasi mengelola pencatatan sehingga pencatatan tersebut tidak hanya menampilkan hasil proses bisnis yang menguntungkan, tetapi juga sebagai bahan untuk mengevaluasi kelayakan proses bisnis tersebut terhadap ekosistem. Pembahasan sistem akuntansi secara menyeluruh akan menjadi kalut jika tidak menelisik kepentingan-kepentingan stakeholder lainnya. Masyarakat dan lingkungan adalah bagian penting dari proses bisnis, oleh karena itu sistem akuntansi yang terbentuk tidak mesti menampilkan prestasi perusahaan dalam menghasilkan laba, namun juga bisa menjelaskan bagaimana lingkungan dan kehidupan sosial tetap terjaga. Pertanggungjawaban terhadap para stakeholder akan memberikan pandangan kepada korporasi dalam mengelola proses bisnisnya. Akuntansi air tidak mengajarkan bagaimana aset air tersebut harus memiliki kuantitas yang lebih banyak daripada liabilitas air, tetapi memberikan arahan kepada Newmarket Gold dalam mengelola air secara efisien melalui proses daur ulang.

Indonesia, sebagai negara mayoritas Islam, memiliki sudut pandang yang berbeda-beda dalam mengkaji ilmu akuntansi. Dalam Jurnal Zaelani, Kamaruddin (2015) mengungkapkan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan tidak hanya berhenti pada satu poin tetapi pada suatu poin yang mendahului poin-poin lainnya yang sangat bervariasi dari segi corak dan warna. Poin tersebut yang disebut Al Quran dan Al Hadist. Perkembangan ilmu pengetahuan akan diobservasi dari awal hingga akhir kehidupan.

Penyusunan standar akuntansi yang humanis akan terbentuk dari hasrat manusiawi pengambil kebijakan di korporasi. Petani-petani akan menganggap bahwa pengorbanan mereka dengan menyumbangkan hasil pertanian dalam acara keagamaan dan ritual adat lainnya sebagai laba usaha. Oleh karena itu, sebagian besar cenderung tidak mengaplikasikan standar akuntansi yang berlaku. Berbeda halnya pada proses penyusunan laporan keuangan perusahaan, tentu hal tersebut akan menjadi pengurang pendapatan pada laporan Rugi Laba. Dibutuhkan laporan-laporan pertanggungjawaban kepada masyarakat dan lingkungan agar korporasi dapat berkembang menjadi perusahaan non kapitalis.

DAFTAR PUSTAKA

Kurniawan, Rendra  dkk. 2014 . “Biological Asset Valuation Reconstruction: A Ctritical Study of IAS 41 on Agricultural Accounting in Indonesia. Procedia – Social and Behavioral Sciences 164 68-75. International Conference on Accounting Studies 2014 (ICAS 2014) Kuala Lumpur, Malaysia.

Garstone, Rikki A, Dkk. 2017. “Accounting for Water in The Minerals Industry: Capitalising on Regulatory Reporting”. Elsevier – Water Resources and Industry.

Zaelani, Kamaruddin. 2015. “Philosophy of Science Actualization for Islamic Science Development Philosophical Study on An Epistemological Framework for Islamic. Elsevier-Pasific Science Review B: Humanities and Social

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ASPEK TEORI KONTINJENSI DALAM AKUNTANSI KEPERILAKUAN

  Teori Kontinjensi Menurut teori, sistem yang terbuka pada suatu perusahaan sangat berkaitan dengan interaksi untuk penyesuaian dan penge...