BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Filsafat mempunyai definisi
yang bermacam-macam dari para ahli maupun filosof. Contoh-contohnya adalah
seperti Soetopo (2004:1) menarik pengertian filsafat dari dua pengertian dasar,
yaitu pengertian etimologis dan pengertian semantik.
Pengertian etimologis
filsafat berasal dari kata “filos” yang berarti cinta dan “sofia” yang berarti
kebijakan, kebijaksanaan, dan kebenaran. Dengan demikian kata filsafat berarti
cinta terhadap kebijakan dan kebijaksanaan. Sedangkan, pengertian semantik
filsafat adalah pengetahuan yang mempelajari hakikat segala sarwa yang ada dan
yang mungkin ada sedalam-dalamnya yang dilakukan secara radikal dan menyeluruh.
Berdasarkan pengertian itu,
berarti orang yang belajar filsafat adalah orang yang cinta akan kebajikan,
kebijaksanaan, dan kebenaran. Kajiannya dilakukan dengan berusaha mengetahui
suatu hal sedalam-dalamnya, sehingga sampai pada hakikat yang sebenar-benarnya,
sampai pada seinti-intinya. Orang yang ahli dalam filsafat disebut filosof atau
ada yang menyebutnya filsuf. Bidang kajian filsafat sangat luas, yaitu segala
sarwa atau segala hal yang ada, bahkan yang mungkin ada. Alat utama untuk
mengkaji sarwa itu adalah pikiran atau nalar. Pikiran atau nalar kita bisa
menjelajah ke hal-hal yang ada dan yang mungkin ada.
B.
Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang dapat diambil
sebagai berikut :
1. Apakah yang dimaksud dengan filsafat
ilmu?
2. Apa kaitan antara studi filsafat dan
ilmu?
C.
Maksud
Dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan dari rumusan masalah di atas
adalah :
1. Agar mampu memahami definisi
filsafat ilmu?
2. Agar mengetahui kaitan antara studi
filsafat dan ilmu?.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Dasar-dasar Filsafat dan Ilmu
Dasar-dasar
filsafat terdapat tiga, yaitu penalaran, logika, dan sumber pengetahuan.
Penalaran yang secara benar dan sungguh-sungguh hanya dimiliki oleh manusia.
Manusia mampu berpikir lebih dalam, lebih jelas. Manusia mampu mengerti apa dan
mengapa gejala-gejala yang terjadi di sekitarnya. Manusia bernalar, merenung,
dan berpikir di alam sadar mereka. Untuk itulah penalaran termasuk dasar-dasar
filsafat.
Dasar
filsafat yang kedua adalah logika. Logika didasarkan pada cara berpikir manusia
yang sesuai dengan keadaan tertentu. Logika tidak pernah mengatakan salah.
Karena logika sesuai dengan keadaan yang ada di sekitar manusia.
Dasar
filsafat yang ketiga adalah sumber pengetahuan. Hipotetis yang kita hasilkan
setelah penalaran harus kita kaji secara benar. Sumber pengetahuan didapat dari
pikiran rasional dan pengalaman empirik manusia. Kedua hal ini harus seimbang
dan harus saling memadai. Pikiran rasional yang idealisme dibutuhkan sebagai
teori pendukung. Sedangkan pengalaman yang empirik dibutuhkan untuk mendukung
pemikiran-pemikiran yang muncul.
Pengertian
ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem
menurut metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu.
Itu jika ditinjau dari KBBI. Jika ditinjau dalam bahasa asing, ambil contoh
bahasa inggris.
Ilmu
yang disebut sebagai science
mempunyai arti the study of the structure and behavior of the physical and
natural world and society, especially through observation and experiment. Itu
menurut kamus oxford yang jika diterjemahkan menjadi studi tentang struktur dan
perilaku dari dunia fisik dan alam dan masyarakat, khususnya melalui pengamatan
dan percobaan.
Kata
ilmu dalam bahasa Arab "ilm" yang berarti memahami, mengerti, atau
mengetahui. Dalam kaitan penyerapan katanya, ilmu pengetahuan dapat berarti
memahami suatu pengetahuan, dan ilmu sosial dapat berarti mengetahui
masalah-masalah sosial, dan sebagainya.
Ilmu
(atau ilmu pengetahuan) adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki,
menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan
dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang
pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan
kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.
Ilmu
bukan sekadar pengetahuan (knowledge),
tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati
dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam
bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena
manusia berusaha berpikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya.
Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi.
B.
Konsep Filsafat
B.1. Konsep Empirisme
Salah satu konsep mendasar tentang
filsafat ilmu adalah empirisme atau ketergantungan pada bukti. Empirisme adalah
cara pandang bahwa ilmu pengetahuan diturunkan dari pengalaman yang kita alami
selama hidup kita. Di sini, pernyataan ilmiah berarti harus berdasarkan dari
pengamatan atau pengalaman. Oleh karena itu empirisme adalah aliran yang
menjadikan pengalaman sebagai sumber pengetahuan. Aliran ini beranggapan bahwa
pengetahuan diperoleh melalui pengalaman dengan cara observasi atau pengindraan
kata seorang penganut empirisme. Kata empiris berasal dari kata yunani
“empiris” yang berarti pengalaman indrawi. Aliran ini beranggapan bahwa
pengetahuan diperoleh melalui pengalaman dengan cara observasi atau
pengindraan. Pengalaman merupakan faktor fundamental dalam pengetahuan,ia
merupakan sumber dari pengetahuan manusia.
Hipotesa ilmiah dikembangkan dan diuji
dengan metode empiris, melalui berbagai pengamatan dan eksperimentasi. Setelah
pengamatan dan eksperimentasi ini dapat selalu diulang dan mendapatkan hasil
yang konsisten, hasil ini dapat dianggap sebagai bukti yang dapat digunakan
untuk mengembangkan teori-teori yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena alam.
John Lucke,bapak empirisme Britan
mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan akalnya merupakan sejenis buku
catatan yang kosong (tabula rasa),dan di dalam buku catatan itulah dicatat
pengalaman-pengalaman indrawi. Menurut Locke seluruh sisa pengetahuan kita
diperoleh dengan jalan menggunakan serta membandingkan ide-ide yang diperoleh
dari pengindraan dan refleksi yang pertama
dan sederhana tersebut.
Ia memandang akal sebagai sejenis tempat
penampungan yang secara pasif akan menerima hasil-hasil pengindraan tersebut.
Hal ini berarti bahwa semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak
kembali dan apa yang tidak dapat dilacak kembali bukanlah termasuk ilmu
pengetahuan.
Pengalaman
adalah merupakan akibat suatu objek yang merangsang alat indrawi, yang dengan
demikian ini menimbulkan rangsangan syaraf yang kemudian dibawa ke otak dan di
dalam otak rangsangan tersebut dipahami dan dicerna oleh otak sebagaimana
adanya,atau berdasarkan atas rangsangan tersebut dibentuklah
tanggapan-tanggapan mengenai objek yang telah merangsang alat indrawi.
B.2. Konsep Falsiabilitas
Falsifiabilitas atau refutabilitas adalah
kemungkinan bahwa sebuah pernyataan dapat difalsifikasi atau dibuktikan salah
melalui observasi atau uji coba fisik. Sesuatu yang bisa difalsifikasi bukan
berarti itu salah, namun berarti bahwa jika pernyataan tersebut salah, maka
kesalahannya dapat ditunjukkan.
Klaim bahwa "tidak ada manusia yang
hidup selamanya" tidak dapat difalsifikasi karena tidak mungkin untuk
dibuktikan salah. Dalam teori, seseorang harus mengamati seorang manusia hidup
selamanya untuk memfalsifikasi klaim tersebut. Di sisi lain, "semua
manusia hidup selamanya" dapat difalsifikasi karena kematian satu orang
manusia dapat membuktikan pernyataan tersebut salah (tidak meliputi pernyataan
metafisis mengenai jiwa, yang tidak dapat difalsifikasi).
Falsifiabilitas, terutama testabilitas,
merupakan konsep penting dalam ilmu pengetahuan dan filsafat ilmu pengetahuan.
Konsep ini dipopulerkan oleh Karl Popper. Popper menyatakan bahwa hipotesis,
dalil, atau teori, itu ilmiah apabila bisa difalsifikasi. Falsifiabilitas
merupakan kriteria penting (tetapi tidak cukup) untuk gagasan-gagasan ilmiah.
Ia juga menyatakan bahwa pernyataan yang tak bisa difalsifikasi itu tidak
ilmiah.
Menurut Popper teori yang melatar
belakangi fakta-fakta pengamatan adalah titik permulaan ilmu pengetahuan dan
teori diciptakan manusia sebagai jawaban atas masalah pengetahuan tertentu
berdasarkan rasionya sehingga teori tidak lain hanyalah pendugaan dan pengiraan
dan tidak pernah benar secara mutlak sehingga perlu dilakukan pengujian yang
secermat-cermatnya agar diketahukan ketidakbenarannya.
Ilmu pengetahuan hanya dapat berkembang
apabila teori yang diciptakannya itu berhasil ditentukan ketidakbenarannya. Dan
Popper mengganti istilah verifikasi dengan falsifikasi.
Keterbukaan untuk diuji atau
falsifiabilitas sebagai tolok ukur mempunyai implikasi bahwa ilmu pengetahuan
dapat berkembang dan selalu dapat diperbaiki, dan pengetahuan yang tidak
terbuka untuk diuji tidak ada harapan untuk berkembang, dan sifatnya biasanya
dogmatis serta tidak dapat digolongkan sebagai pengetahuan ilmiah.
C. Cabang-Cabang
Filsafat
Banyak ahli filsafat masih berselisih
paham dalam memberikan pengertian tentang cabang-cabang filsafat, bahkan hingga
saat ini. Cabang-cabang filsafat, dipahami sebagai pembagian filsafat berdasar
obyek yang dikaji.
Pembagian dalam cabang-cabang filsafat
ini dimaksudkan untuk mengelompokkan pemikiran filsafat agar bisa tersistematisasi
bagus dan mudah dipahami. Secara garis besar, obyek kajian dalam cabang-cabang
filsafat meliputi tentang yang ada, alam semesta, metode dalam mendapatkan
kebenaran dari suatu ilmu pengetahuan, dan tentang tata nilai. Keempat bidang
ini, dijadikan dasar klasifikasi bagi pembagian cabang-cabang filsafat, yang
paling populer.
C.1. Ontologi
Ontologi adalah pemikiran filsafat yang
mengkaji tentang realitas dunia. Perdebatan filsafat paling sengit berada pada
wilayah ini. Para ahli filsafat berdebat mengenai tema apakah “yang ada” itu. Apakah
“yang ada” itu bersifat ide ataukah materi? Perdebatan akan semakin seru
manakala konsep tentang “yang ada” ini dibenturkan pada konsep keabadian.
Kaum idealisme berpendapat bahwa
"yang ada" itu adalah ide, dan kenyataan atau realitas adalah
bayangan dari ide. Ide juga dipahami sebagai roh atau spirit yang identik
dengan keabadian, dan tidak akan pernah menjadi “tiada”. “Yang ada” akan selalu
ada, dan tidak akan pernah menjadi “tiada”. Kalau “yang ada” itu suatu saat
menjadi “tiada”, maka keberadaan dari “yang ada” seperti ini adalah semu.
Sementara itu, penganut paham
materialisme berpendapat bahwa “yang ada” itu yang memiliki materi dan
menempati dimensi ruang dan waktu. Di luar pengertian ini, dianggap “tidak
ada”. Perubahan juga menjadi tema penting yang dikaji oleh penganut paham ini,
yang akhirnya mengilhami teori relativitas Einstein. Bahwa sesuatu “ada”
berdasar batasan “ruang” dan “waktu”, dengan demikian “yang ada” itu bersifat
relatif, bukan absolut. Dalam pengertiannya yang seperti ini, filsafat
materialisme tidak ada hubungannya dengan pengertian materialistis seperti yang
banyak kita jumpai, yang berkonotasi pada pengejaran kehidupan yang mewah atau
mata duitan.
C.2. Kosmologi
Ilmu filsafat ini berbicara mengenai asal
mula alam semesta dan sifat-sifat hakiki yang menyertainya. Pendapat paling
mengejutkan tentang asal mula alam semesta ini, dikemukakan oleh Stephen
Hawking yang mengeluarkan teori bahwa alam semesta terjadi dari dentuman besar
(big bang). Hingga saat ini, pendapat Hawking dipercaya sebagai suatu teori
yang mendekati kebenaran.
Pemikiran Kosmologi ini telah memberi
kontribusi besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan alam. Karena obyek kajian
dari kosmologi adalah segala sesuatu yang ada di alam semesta berikut
gejala-gejalanya. Dari sini berkembang ilmu geologi, biologi, fisika, dan lain
sebagainya.
C.3.
Epistemologi
Epistemologi adalah ilmu yang menyelidiki
tentang bagaimana suatu ilmu pengetahuan itu didapat dan bagaimana suatu ilmu
pengetahuan itu bisa dikatakan benar. Dari cabang filsafat ini kemudian
berkembang aliran rasionalisme yang berpendapat bahwa ilmu pengetahuan didapat
berdasar daya nalar manusia.
Selain rasionalisme, cabang filsafat ini
juga melahirkan aliran empirisme yang berpendapat bahwa ilmu pengetahuan
didapat dari pengalaman. Selanjutnya, pertentangan antara rasionalisme dengan
empirisme ini coba didamaikan oleh Immanuel Kant dengan menawarkan teori
kritisisme.
Selain ketiga aliran di atas, cabang
filsafat ini juga melahirkan pemikiran yang berpendapat bahwa ilmu pengetahuan
didapat dari intuisi manusia. Aliran teori ini sangat mewarnai corak pemikiran
filsafat timur, dan jadi faktor yang secara tegas membedakannya dengan filsafat
barat.
C.4. Axiologi
Axiologi adalah cabang filsafat yang
berbicara mengenai tata nilai yang berlaku di masyarakat. Dari cabang filsafat
ini melahirkan ilmu logika yang membahas tentang “yang benar dan yang salah”. Selain itu,
filsafat ini juga membahas etika berbicara tentang yang baik dan “yang buruk”
serta estetika yang berkutat tentang keindahan dan mencoba merunut konsepsi
tentang “yang indah dan yang jelek”.
Axiologi juga sering disebut dengan filsafat nilai.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Apakah
hubungan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan? Oleh Louis Kattsoff
dikatakan: Bahasa yang pakai dalam filsafat dan ilmu pengetahuan dalam beberapa
hal saling melengkapi. Hanya saja bahasa yang dipakai dalam filsafat mencoba
untuk berbicara mengenai ilmu pengetahuan, dan bukanya di dalam ilmu
pengetahuan. Namun, apa yang harus dikatakan oleh seorang ilmuwan mungkin
penting pula bagi seorang filsuf.
Pada bagian lain dikatakan: Filsafat
dalam usahanya mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan pokok yang kita
ajukan harus memperhatikan hasil-hasil ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dalam
usahanya menemukan rahasia alam kodrat haruslah mengetahui anggapan
kefilsafatan mengenai alam kodrat tersebut. Filsafat mempersoalkan
istilah-istilah terpokok dari ilmu pengetahuan dengan suatu cara yang berada di
luar tujuan dan metode ilmu pengetahuan.
Dalam hubungan ini Harold H. Titus
menerangkan: Ilmu pengetahuan mengisi filsafat dengan sejumlah besar materi
yang faktual dan deskriptif, yang sangat perlu dalam pembinaan suatu filsafat.
Banyak ilmuwan yang juga filsuf. Para filsuf terlatih di dalam metode ilmiah,
dan sering pula menuntut minat khusus dalam beberapa ilmu sebagai berikut:
1)
Historis, mula-mula filsafat identik dengan ilmu
pengetahuan, sebagaimana juga filsuf identik dengan ilmuwan.
2)
Objek material ilmu adalah alam dan manusia. Sedangkan
objek material filsafat adalah alam, manusia dan ketuhanan.
DAFTAR PUSTAKA
http://carapedia.com/pengertian_definisi_ilmu_menurut_para_ahli_info515.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat_ilmu
http://www.anneahira.com/cabang-filsafat.htm
http://www.masbied.com/2009/12/23/pengertian-filsafat-cabang-cabang-filsafat-filsafat-dan-agama
Sumantri, Jujun S. FILSAFAT ILMU SEBUAH PENGANTAR
POPULER. Jakarta: Sinar Harapan. 1995.
Sumantri, Jujun S. ILMU DALAM PERSPEKTIF. Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia. 2001
Tidak ada komentar:
Posting Komentar